Minggu, 16 Februari 2020

Pimpinan KPK Bentuk Satgas, Tapi Ditolak Pegawainya

Pimpinan KPK Bentuk Satgas, Tapi Ditolak Pegawainya
Banyak Kasus Pencucian Uang Kiriman Dari PPATK Mangkrak Karena Tidak Diperdulikan

Menahkodai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bukan perkara mudah. Jika sang pemimpinnya salah langkah maka akan menjadi blunder. Pasalnya pegawai di lembaga anti rasuah ini dikenal kritis terhadap pimpinannya.

Sebagai bukti, rencana pimpinan KPK yang akan membentuk tiga satuan tugas justru mendapatkan resistensi atau penolakan dari internal lembaga antirasuah itu.

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango mengatakan rencana itu mendapatkan penolakan dari sejumlah pegawai.

"Harus saya akui, memperkenalkan sesuatu yang baru selalu dihadapkan dengan sinisme dan penolakan dari sistem yang merasa telah berjalan dengan 'sangat baik'," kata dia saat dihubungi, Sabtu (15/2/2020)

Nawawi mencontohkan sejumlah pernyataan yang dilontarkan dari internal ketika pimpinan KPK menggagas rencana ini.

Menurut dia sebagian pegawai menilai rencana tersebut perlu didiskusikan lebih dulu. Sedangkan sebagian lagi ada yang berkata bahwa tanpa pembagian kewenangan, satuan tugas sudah berjalan dengan baik.

"Atau (rencana) itu, masih sangat sulit, Pak, atau terbatas SDM di kami, Pak," ujar Nawawi.

Rencana pembagian satgas pertama kali dilontarkan oleh Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR, Senin, 27 Januari 2020. Marwata berujar satgas akan dibagi menjadi tiga yakni, satgas tangkap tangan, pencucian uang, dan pengembangan kasus.

Menurut Alex pembagian diperlukan demi pengaturan sumber daya manusia di KPK.

Selama ini, kata dia, kebanyakan pegawai KPK berfokus ke operasi tangkap tangan.

"Ke depan, kami sepakat akan membentuk satgas tersendiri, yang menangani tertangkap tangan, case building dan TPPU," kata dia.

Seorang pegawai KPK menyangkal adanya penolakan dari internal terhadap rencana pembentukan tiga satgas ini.

Dia menilai hanya terjadi miskomunikasi antara pimpinan dan pegawai, sehingga memunculkan isu liar.

Sebagian pegawai khawatir rencana ini dilakukan hanya untuk menggeser sejumlah orang.

"Takut itu dijadikan satgas pembuangan atau untuk geser orang, pimpinan mestinya memastikan bahwa itu tidak benar," kata dia sebagaimana dilansir dari tempo.co.

Adapun Nawawi mengatakan rencana pembentukan tiga satgas ini murni untuk kepentingan efektifitas penyelidikan perkara korupsi.

Ia menyebut banyak Laporan Hasil Analisis dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang terbengkalai.

"Banyak LHA yang diumpankan teman-teman PPATK seperti hanya menjadi arsip tak bertuan," kata dia.


Jumat, 14 Februari 2020

Gara-Gara Takut Pada Patung

Editor.ID News
Geger Patung Gajah Berbentuk Aneh di Gresik
Pembuatan Patung Menghabiskan Anggaran 1 Milyar

EDITOR.ID - Gresik , Warganet digegerkan dengan kemunculan patung Gajah berbentuk unik di sudut jalan Kota Gresik, Jawa Timur. Bahkan foto patung ini viral di media sosial. Entah apa maksud dan tujuan Pemerintah Kabupaten membuat patung ini. Namun yang jelas pembangunannya menelan anggaran cukup besar dari dana CSR perusahaan BUMN di kota ini yakni Rp 1 miliar.

Pembangunan patung Gajah di Gresik ini langsung menuai nyinyiran dan gelak tawa lucu-lucuan dari para netizen . Pasalnya, hasil karya seni yang menghabiskan dana 1 milyar rupiah ini dinilai sangat tidak memuaskan, bahkan Patung Gajah Mungkur yang berada di Perlimaan Sukorame ini menuai  olok-olok dari para netizen.

Seperti  yang di unggah oleh akun facebook dengan nama Maiyi Maiyi yang mendapat ratusan komentar lucu dan postingan itu sudah dibagikan ratusan kali dan kemungkinan akan terus bertambah.

Dari informasi yang dihimpun redaksi, Sekretaris PT. PETROKIMIA Gresik, Yusuf Wibisono menjelaskan bahwa dana 1 milyar tersebut bersumber dari dana Coorporate Social Responsibilty (CSR) dari PT. PETROKIMIA Gresik.

Namun pembangunan dan desain patung sepenuhnya dilakukan oleh pihak Dinas PUPR pemerintah kabupaten (Pemkab) Gresik.

"Dalam hal ini Pemkab Gresik minta sumbangan dari perusahaan kami. Untuk dana 1 Milyar itu kami ambilkan dari dana CSR PT. PETROKIMIA, namun kalau desain patung sepenuhnya dari pihak dinas PUPR kabupaten Gresik." terang Yusuf Wibisono.

Sedangkan dari Pemkab Gresik saat di konfirmasi tentang kontroversi patung gajah itu, Ida Lailatussa'diyah selaku Assisten II Perekonomian dan Pembangunan menjelaskan dengan berdalih bahwa tidak di benarkan dalam syariat Islam membuat patung menyerupai bentuk aslinya, maka dari itu patung sengaja di bangun dalam bentuk abstrak.

"Gresik ini kan kota Wali. Dan dalam syariat Islam itu tidak boleh membuat patung atau sesuatu yang bernyawa menyerupai bentuk aslinya. Maka dari itu, patung kita bangun dalam bentuk abstrak." Ungkap ida beralasan kenapa bentuk patung yang dibuatnya berbentuk aneh. (Aldian Dwi Pamungkas)

Kamis, 19 Desember 2019

Aparat Hukum Diminta Usut Dugaan Korupsi Pembelian Seragam Siswa di Badung Bali

Aparat Hukum Diminta Usut Dugaan Korupsi Pembelian Seragam Siswa di Badung Bali

Permendikbud 45/2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah

Sebagaimana ramai diberitakan media, DPRD kabupaten Badung propinsi Bali merasa geram, karena pembelian seragam gratis untuk para siswa sekolah dikabupaten tersebut yang dengan anggaran yang sangat besar akan tetapi kain yang dikirim kualitasnya buruk.

Untuk itu BARAK - Barisan Anti Korupsi Bali meminta aparat hukum untuk mengusut tuntas kejadian tersebut, serta menyelidiki adanya indikasi korupsi pada pembelian kain seragam untuk siswa tersebut.

Pembelian kain seragam siswa yang memakai dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) senilai Rp. 1,3 milyar tersebut dilakukan oleh dinas pendidikan kepemudaan dan olahraga kabupaten Badung, dimana penyedia barang adalah CV Artha Kawi Putri  dengan NPWP: 82.380.973.6-654.000 yang beralamat di dusun Sumbersari RT 01 RW 08 Wonosari kabupaten Malang, propinsi Jawa Timur.

Menurut BARAK, jika memang terindikasi dengan harga yang sangat mahal, akan tetapi kain yang dikirim itu kualitasnya buruk, maka ada 2 (dua) kemungkinan.

Pertama, jika kain yang dikirim oleh penyedia barang itu sesuai dengan dokumen pengadaan, maka ada dugaan persekongkolan antara dinas pendidikan dengan penyedia barang. Dimana dinas pendidikan dalam menyusun dokumen pengadaan terindikasi sengaja menyusun reencana pembelian dengan menentukan spesifikasi kain yang buruk untuk dibeli, tetapi kain yang buruk itu dibandrol dengan harga yang tinggi atau terjadi dugaan mark up harga.

Untuk perlu diusut, benarkah harga kain dengan kualitas yang buruk itu jauh lebih mahal dibanding dengan harga kain seragam dengan kualitas yang sangat bagus di pasaran.

"Jika ini terjadi, maka patut dipertanyakan bagaimana dinas pendidikan membuat HPS (Harga Perkiraan Sendiri). Kok bisa ada dugaan memilih dan menentukan spesifikasi kain yang jelek, tapi mematok harga pembeliannya jauh lebih mahal dibanding harga kain kualitas bagus yang ada dipasaran", kata Made Sukarta, ketua BARAK Bali.

Kedua, bisa saja terjadi bahwa penyedia barang yakni CV Artha Kawi Putri diduga mengirim kain yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang dituangkan dalam dokumen pengadaan.

Untuk itu menurut BARAK, perlu diperiksa spesifikasi kain yang dikirim oleh penyedia barang, serta dilakukan uji laboratorium dari lembaga independen/pemerintah yang berwenang, agar tidak terjadi rekayasa terhadap hasil dari uji laboratorium pada kain tersebut.

Made Sukarta berharap agar aparat hukum mengusut tuntas masalah ini, agar dana untuk pendidikan tidak terbuang sia-sia karena dipakai oleh para oknum secara sembarangan untuk bisa melakukan korupsi.



Minggu, 15 Desember 2019

Penyidikan Kasus YKP Surabaya, Ada Dugaan Pelanggaran UU & HAM

Minggu, 01 Desember 2019

Amdal Lalu-lintas Dinas Perhubungan Surabaya Dipertanyakan

Rabu, 27 November 2019

La Nyalla Mattalitti Dukung Dendi Setiawan Sebagai Ketua DPP GMNI

La Nyalla Mattalitti Dukung Dendi Setiawan Sebagai Ketua DPP GMNI



Ageng Dendi Setiawan adalah kader terbaik dari GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Jatim (Jawa Timur), maka sangatlah pantas jika dicalonkan sebagai pengurus malah bahkan sebagai ketua umum DPP GMNI dalam kongres di Ambon tahun 2019 ini.

Apalagi pengalaman berorganisasi dan kiprahnya cukup bagus dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Seperti saat ini saja Dendi Setiawan sudah bisa menunjukkan banyak prestasi dalam menjalankan aktivitasnya sebagai pengurus di salah satu pengurus pada  biro atau departemen Pemuda Pancasila cabang kota Surabaya yang diketuai oleh Andi Mattalitti, putra dari La Nyalla Mattalitti ketua DPD (dewan Perwakilan Daerah) RI.

Selain aktif sebagai pengurus pada salah satu biro atau departemen Pemuda Pancasila cabang kota Surabaya, Dendi Setiawan juga sering diminta untuk membantu kegiatan Andi Mattalitti di organisasi KADIN (Kamar Dagang dan Industri) kota Surabaya. Dukungan Andi Mattalitti dalam kegiatan2 Dendi Setiawan ini menunjukkan dukungan dari La Nyalla Mattalitti ketua DPD RI

Maka bisa dilihat di tingkat propinsi Jatim, dukungan pada Dendi Setiawan sangat solid, bahkan para relasi dan anak buah La Nyalla Mattalitti yang ada di jajaran birokrasi pemprop Jatim yang sekarang menjadi pengurus Alumni GMNI Jatim seperti Anom, Himawan, Nur Wiyatno dll bahkan banyak anggota DPRD Jatim  telah total membantu dan mendisiplinkan GMNI se Jatim agar Dendi Setiawan terpilih sebagai ketua DPP GMNI

Di luar propinsi Jatim, relasi yang ada juga telah banyak membantu dan berkampanye melalui berbagai sarana, misalnya melalui DPP KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) dll, dan hasilnya Dendi Setiawan banyak juga diterima oleh berbagai propinsi yang ada di Indonesia.

Jika Dendi Setiawan, menjadi ketua DPP GMNI, tentunya komunikasi organisasi GMNI dengan lembaga lembaga tinggi negara akan bisa berjalan dengan baik. Ini tentunya akan sangat bermanfaat bagi GMNI.



Selasa, 26 November 2019

Dukungan dan Polemik Pembelian Kain Pakaian Dinas DPRD Jatim