Minggu, 31 Juli 2016

Renungan: mencerna informasi yang sekarang gencar disebarkan untuk mengkoyak-koyak Indonesia

Terimakasih sudah menuliskannya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Ambon, Titik Balik Saya
Renungan: mencerna informasi yang sekarang gencar disebarkan untuk mengkoyak-koyak Indonesia
Hasil gambar untuk kerusuhan
Besok saya akan ke Ambon, sampai hari Kamis. Ada 2 tujuan ke sana. Pertama, berbagi kepada para mahasiswa. Kedua, ziarah.

Ambon adalah titik balik dalam hidup saya.

Dulu saya menjalani hidup dengan memakai sudut pandang korban. Umat Islam adalah umat yang toleran, tapi umat lain selalu mengganggu. Umat Islam selalu dizalimi.

Jadi wajar saja kalau kami melawan balik untuk mempertahankan diri. Wajar saja kalau kami membalas. Saya selalu yakin bahwa setiap saat umat Islam diusik dan diganggu.

Maka ketika ada kesempatan mereka harus mengusik balik, membalas.

Saya sedang kuliah di Jepang ketika kerusuhan Ambon pecah. Saya marah ketika itu, sangat marah. Kepada siapa? Kepada orang-orang Kristen. Sudah sejak lama saya percaya bahwa orang-orang Kristen melakukan berbagai hal untuk mengganggu umat Islam.

Dengan kristenisasi mereka memurtadkan orang-orang Islam. Pemerintah mereka kuasai, untuk memastikan orang-orang Islam terpinggirkan. Ekonomi juga mereka kuasai, agar orang-orang Islam tetap miskin.

Kini mereka lebih menggila. Di Ambon orang-orang Kristen sudah berani melakukan tindak kekerasan. Mereka terang-terangan melukai dan membunuh orang-orang Islam. Mereka benar-benar musuh yang nyata. Rasanya ingin segera saya terbang ke Ambon untuk berjihad.

Foto-foto korban kerusuhan masuk ke email saya. Sungguh mengerikan dan menjijikkan, membuat kebencian saya kepada orang Kristen makin memuncak.

Sampai suatu siang, ada email masuk, berisi foto-foto korban. Saya sebelumnya sudah melihat foto-foto itu. Tapi ini berbeda. Sebelumnya foto-foto itu diberi keterangan bahwa itu adalah korban di pihak muslim, korban kebiadaban pihak Kristen.

Tapi ini, foto yang sama, keterangannya adalah ini korban di pihak Kristen, korban kebiadaban pihak muslim.

Lalu saya terduduk lesu. Bagaimana bila pihak Kristen sana memandang kami orang muslim sama seperti saya memandang mereka selama ini? Bagaimana bila kerusuhan ini hanyalah kebodohan karena cara pandang itu? Bagaimana bila cara pandang itu kita hilangkan begitu saja? Tentu mayat-mayat yang mengerikan ini tak perlu ada, bukan?

Saya kemudian menangis sejadi-jadinya.

Selama ini saya hanya melihat apa yang ingin saya lihat. Saya kumpulkan fakta-fakta dalam memori saya, yang mendukung kesimpulan bahwa orang-orang Kristen itu memusuhi Islam.

Ada banyak fakta yang tidak mendukung, tapi saya abaikan. Misalnya, keluarga kami biasa dirawat di rumah sakit Katholik di Pontianak, dan kami tidak pernah diajak pindah agama.

Sepupu saya sekolah di sekolah Katholik, tanpa biaya. Dia juga tidak pernah diajak pindah agama.

Fakta itu saya abaikan. Saya lebih percaya pada cerita-cerita bahwa rumah sakit dan sekolah adalah sarana untuk memurtadkan orang Islam, meski saya tak mengalaminya sendiri.

Saat itu saya bongkar seluruh memori saya, saya ubah pikiran saya. Saya baca kisah-kisah damai di Ambon yang sudah berlangsung ratusan tahun. Saya ingat teman-teman Kristen saya, mereka baik-baik belaka.

Saya kemudian membaca ulang sejarah hubungan Islam-Kristen. Bukankah Perang Salib itu adalah perang karena persaingan antara Arab dan Eropa? Bukankah penjajahan Nusantara itu adalah soal keinginan orang Eropa untuk menguasai sumber daya alam?

Dunia tiba-tiba menjadi terlihat berbeda.

Ambon yang saya tangisi adalah Ambon yang basah oleh tumpahnya darah anak-anak bangsa secara sia-sia. Bukan lagi Ambon yang tanahnya basah okeh tumpahnya darah kaum muslim akibat kezaliman Kristen.

Pertumpahan darah itu bisa kita hentikan hanya dengan cara sederhana, yaitu berhenti memandang pihak lain sebagai musuh.

Cara itu berlaku untuk semua tempat. Sampit, Poso, Sambas, Tolikara, Aceh Singkil, dan Tanjung Balai.

Saya akan berziarah ke Ambon, mengenang saudara-saudara kita yang sudah mendahului. Saya datang untuk bersyukur, bahwa saya punya kesempatan untuk mengubah cara berpikir saya.

Semoga ada lebih banyak orang lain seperti saya, berhenti memusuhi.



Rabu, 27 Juli 2016

JALAN MAKRIFAT DAN MANUNGGALING KAWULO GUSTI

JALAN MAKRIFAT DAN MANUNGGALING KAWULO GUSTI
(Dialog Syech Siti Jenar dengan Kebo Kenongo - Dalam Sebuah Novel)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO2SXi9nSsI-6yvuaU4Q07cJR2iHg-sUd35RflirDhKfDGxMvGKAMWkRDBLYuPST8pfNPooO-petqbg0CeqXbitQmCeKsnAiHYEnkxdE0_l4p_dW_S7K5iwhQZnWLBPk2JF95P1eh2-lk/s1600/IMG-20151217-WA0021.jpg
"Syekh, saya telah mencoba untuk menuju 'manunggaling kawula gusti'."
Kebo Kenongo menghampar serban di depannya. Lalu berdiri.

"Andika sekarang akan shalat?" SyekhSiti Jenar duduk bersila di sampingnya. "Bukankah andika telah mencobamenuju maunggaling kawula gusti?"
"Benar, namun saya belum sampai. Sekarang saya akan shalat." terang Kebo Kenongo.

"Tujuan andika shalat?" Syekh Siti Jenar tersenyum. "Bukankah shalat jalan kita untuk
menuju manunggaling kawula gusti,Syekh?" Kebo Kenongo mengerutkan dahinya.
"Bukan." ujarnya pendek. Syekh Siti Jenar memutar tasbih seraya mulutnya komat-kamit berdzikir.

"Apakah harus berdzikir menuju manunggaling kawula gusti, Syekh?" tanyanya kemudian.
"Tidak juga." jawab Syekh Siti Jenar pendek.

"Lantas, untuk apa shalat dan berdzikir?" kerutnya. "Bukankah Syekh pernah mengatakan kalau semua itu upaya untuk mendekatkan diridengan Allah?"

"Jika itu jawaban Ki Ageng Pengging benar adanya." Syekh Siti Jenar sejenak memejamkan mata, kemudian membukanya lagi dan menatap Kebo Kenongo yang masih berdiri hendak shalat.

"Bukankah mendekatkan diri kepada Allah sama saja dengan menuju manunggaling kawula gusti?" tanyaKebo Kenongo selanjutnya.
"Tidak juga, Ki Ageng." ujar Syekh Siti Jenar.
"Lantas?"

"Manunggaling kawula gusti sangat berbeda dengan mendekatkan diri kepada Allah." terang Syekh Siti Jenar.
"Perbedaannya?" keningnya semakin berkerut .

"Karena yang namanya dekat berbeda dengan manunggal. Manunggal bukanlah dekat. Dekat bukanlah manunggal."

Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. "Namun sekarang sebaiknya Ki Ageng Pengging shalatlah dulu, berceritalah setelah selesai mendirikan nya." tambahnya.
"Baiklah, Syekh."

Keadaan di padepokan Syekh Siti Jenar sore itu terasa segar. Panas matahari tidak menyengat seiring dengan bayang-bayang manusia yang kian meninggi.

Udara pegunungan terasa sejuk, pepohonan dan tumbuhan berdaun lebat menambah suasana asri.
Padepokan yang ditata sedemikian rupa menambah khusuk para pencari ilmu.

"Syekh…" Kebo Kenongo mendekat, "Shalat saya sudah selesai."
"Baiklah," Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, "Apa yang andika rasakan saat shalat?"
"Tidak ada."

"Tidakah merasakan sejuknya udara pegunungan? Tidakah andika melihat kain serban yang terhampar di tempat sujud?" lanjut Syekh Siti Jenar.
"Tidak," jawab Kebo Kenongo.

"Tidakah andika mendekati Allah?" tanyanya kemudian.
"Saya tidak merasakannya. Tidak pula menjumpainya." ujar Kebo Kenongo.
"Mungkin shalat saya terlalu khusuk."

Syekh Siti Jenar menengadah ke langit,lalu duduk bersila di atas rumput hijau yang dihampari tikar pandan. Gerak-geriknya tidak luput dari pandangan Kebo Kenongo.

"Lihatlah!" kedua tanganya ditumpuk di bawah dada. Tiba-tiba tubuhnya mengangkat dari tikar yang didudukinya dengan jarak satu jengkal, dua jengkal, satu hasta, dua depa.

"Apa yang terjadi, Syekh?" Kebo Kenongo garuk-garuk kepala, keningnya berkerut-kerut.
"Ini hanyalah bagian terkecil akibat dari pendekatan dengan Allah…"
dalam keadaan melayang, matanya menatap tajam ke arah Kebo Kenongo.

"Hasil pendekatan? Jadi bukan manunggaling kawula gusti?" dengan menahan kedip Kebo Kenongo bertanya.

"Saya belum menerangkan tentang manunggaling kawula gusti. Namun kita tadi berbicara tentang upaya pendekatan…" terang Syekh Siti Jenar,perlahan menurukan kaki satu persatu hingga akhirnya kembali menyentuh tanah.

"Dengan jalan shalatkah?" tanya Kebo Kenongo. "Bukankah saya tadi waktu shalat tidak menemukan apa pun,bahkan tidak bisa melakukan seperti yang Syekh perlihatkan."

"Jangan salah ini bukan shalat! Namun shalat adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Shalat tadi merupakan syari'at bagi pemeluk Islam, juga ibadah bagi hamba atau abdi Allah. Maka hukumnya wajib." urai Syekh Siti Jenar,

"Namun ketikaorang belum lagi menemukan hakikat dari shalat, itulah seperti yang Ki Ageng Pengging rasakan."
"Hampa." desis Kebo Kenongo, seraya menatap Syekh Siti Jenar dengan penuh kekaguman.

"Kebanyakan orang adalah seperti itu,Ki Ageng Pengging." Syekh Siti Jenar melangkah pelan .

Jika demikian saya baru berada pada tahapan syari'at. Bisakah sayamenemukan hakikat yang dimaksudoleh Syekh Siti Jenar?" Kebo Kenongoseakan-akan kehilangan gairah.

"Hakikat menuju pada pendekatan sebelum manunggaling kawula gusti,
maka seperti yang pernah saya jelaskan pada Ki Ageng. Kita meski berbeda agama namun bukanlah andika harus memaksakan syari'at ajaran yang saya miliki untuk Ki Ageng kerjakan.

Karena kebiasaan andika adalah bersemadi. Bukankah dengancara itu andika merasakan hal yang
berbeda, terutama dalam upaya pendekatan." Syekh Siti Jenar kembali mengurainya.

Benar, Syekh." sejenak Kebo Kenongo merenung. "Syekh, ternyata saya lebih bisa
merasakan mendekati Sang Pencipta dengan cara bersemadi." Kebo Kenongo melangkah pelan di samping Syekh Siti Jenar.

"Karena Ki Ageng Pengging sudah terbiasa dengan cara itu." ujar SyekhSiti Jenar pandangannya tertunduk keujung kaki.

"Benar, seperti Syekh sampaikan. Cara pendekatan dan kebiasaan ternyatatidak mudah untuk dirubah. Namun ketika kita menggunakan jalan yang berbeda ternyata memiliki tujuan sama." Kebo Kenongo menghela napas dalam-dalam.

"Kenapa? Ya, karena itulah yang disebut manunggal. Satu." terang Syekh Siti Jenar, menghentikan
langkahnya seraya matanya menatap puncak gunung yang berkabut.

"Benar, Syekh. Orang melakukan tata cara dan ritual dalam wujud pisik yangberbeda namun tujuannya tetap satu. Sang Pencipta." tambah Kebo Kenongo.

"Satu harapan untuk mendapatkannya. Mendekatkannya, meraihnya,dan manunggal." terang Syekh SitiJenar. "Namun belum manunggaling kawula gusti, yang akhirnya wahdatul wujud." "Lantas?"

"Mereka mendekatkan diri kepadaNya bukan untuk tujuan manunggal, tetapi untuk mengajukan berbagai macam permohonan dan keinginan. Karena mereka lebih mencintai urusan lahiryah yang cenderung duniawi ketimbang urusan alam kembali, akhirat." Syekh Siti Jenar melirik ke
arah Kebo Kenongo.

"Bukankah ada juga orang yang tidak terlalu tertarik pada urusan lahiryah saja? Namun mereka menginginkan kesempurnaan hidup dan masuk dalam tahap akrab dengan Sang Pencipta?" kerut Kebo Kenongo, tatapannya mendarat pada wajah Syekh Siti Jenar yang bercahaya.

"Itulah yang jumlahnya sangat sedikit, Ki Ageng Pengging." lalu Syekh Siti Jenar memberi isyarat dengan jari jemari tangannya.

"Kecenderungan orang melakukan pendekatan pada Allah karena mengharapkan sesuatu, atau orang tadi dalam keadaan susah. Ketika mereka merasa senang dan bahagia, lupalah kepadaNya."

"Mengapa, Syekh?"

"Karena tujuan pendekatan mereka untuk meraih dan memohon kebaikan lahiryah saja." terang Syekh Siti Jenar.

"Ketika merasa sudah terkabul keinginannya, kemudian melupakan Allah.

" Bukankah tidak semua orang seperti itu, Syekh?" tanya Kebo Kenongo.

"Tidak, hanya hitungannya lebih banyak." Syekh Siti Jenar melipat jari jemarinya.

"Sangat sedikit orang yang punya kecenderungan untuk mengikat keakraban dengan Sang Pencipta. Padahal tahap terkabulnya permohonan mereka bukan karena akrab, tapi dalam Supaya mendekat dan kemahamurahanNya saja. Jika seandainya mereka sudah merasa akrab dan berada dalam keakraban tidak mungkin melepas ikatannya semudah itu." urainya.

"Jika sudah akrab saya kira tidak mungkin orang untuk menjauh. Karena untuk mengakrabi perlu upaya mendekatan yang memerlukan waktu tidak sebentar."

Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepala.

"Ya, maka tahap akrab dengan Allah itulah ketika orang dalam keadaan ma'rifat. Ketika kita tidak memiliki lagi garis pemisah untuk saling bertemu. Kapan pun, dimanapun, tidak ada lagi sekat-sekat dan ruang kosong sebagai jeda untuk mengakrabinya." Syekh Siti
Jenar menghela napas dalam-dalam.

"Ya, ya, benar, Syekh." Kebo Kenongo berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya.

"Nah, pada tahap akrab itulah kita meminta apa pun tidak mungkin tertolak. Mana ada keakraban tanpa adanya keterikatan kasih sayang?" Syekh Siti Jenar perlahan melangkah lagi.

"Tentu, Syekh. Saya sangat paham." Kebo Kenongo terkagum-kagum dengan uraian Syekh Siti Jenar.

"Keakraban dengan Allah tidak mudah. Namun ketika kita sudah berada dalam lingkarnya tidak mudah pula untuk melepas." Syekh Siti Jenar berdiri mematung di bawah pohon kenanga.

"Benar, meski saya pun dengan susah payah mendekat untuk meangkrabiNya belum juga sampai. Karena upaya saya bukan hanya untuk mendekat dan mengajukan berbagai permohonan. Namun ingin mengakrabinya." ujar Kebo Kenongo.

"Jika dalam keadaan sangat akrab bukankah tidak memohon pun akan diberinya?"

"Ya," ujar Syekh Siti Jenar. "Berjuanglah dan bergeraklah ke arah sana. Jika sudah tercapai, keinginan lahiryah pun secara perlahan tidak lagi menjadi persoalan yang sangat istimewa. Itu
semua dirasakan hanyalah sebagai pelengkap lahiryah saja. Sebagai syarat hidup."

"Benar, Syekh." Kebo Kenongo kembali mengiringi langkah Syekh Siti Jenar.

"Padahal tidak hanya Raden Patah yang memiliki darah biru dan sekarang menjadi Penguasa Demak Bintoro.

Saya pun masih keturunan Majapahit. Namun saya tidak punya hasrat sedikit
pun untuk menjadi penguasa. Tujuan saya bukan itu, tetapi seperti Syekh terangkan tadi."

"Keinginan lahiryah itulah yang memenjarakan kita menuju ma'rifat.
Ruang kosong, antara, jarak, jeda, pemisah, yang merintangi keakraban
kita dengan Sang Pencipta." terang Syekh Siti Jenar.

"Perintang tadi berupa semua keinginan lahiryah yang distimewakan oleh nafsu keduniawian,
karena ingin berkuasa, ingin kekayaan, dan banyak keinginan. Itu semua yang dinomor satukan. Lahirnya keserakahan."

"Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan pikiran, hati ini akan terasa gelap." ujarKebo Kenongo.

"Mana mungkin menuju akrab untuk mendekat pun kita harus mencari cahaya jika tidak
tentu membabi buta."

"Nah, itulah penggoda manusia untuk meraih keakraban dengan Allah.

Jernihkan hati, tenangkan jiwa, damaikan gejolak nafsu, merupakan upaya untuk membuka jalan
keakraban." tambah Syekh Siti Jenar.

"Manusia terkadang sangat sulit menyusuri jalan yang penuh dengan godaan tadi. Karena dalam dirinya memiliki nafsu yang sangat sulit untuk dikendalikan. Itulah upaya perjuangan menuju keridloannya. Menuju akrab pada Allah. Terkadang manusia hanya sebatas berucap dibibir, bahwa dirinya telah akrab tetapi dalam kenyataannya tidak. Lalu mengakui bahwa saya telah ma'rifat.
Sebenarnya ma'rifat bukan sebuah pengakuan, tetapi realitas dalam tahapan akrab. Terbelengulah
dengan ikatan kata-kata."

"Ya." Kebo Kenongo menghentikan langkahnya seiring dengan Syekh Siti Jenar.

"Adakah perbedaan antara ma'rifat dengan akrab? Atau memang sama ma'rifat adalah akrab, sedangkan akrab adalah ma'rifat?" tanyanya kemudian.

"Orang yang sudah ma'rifat tentu akrab. Orang yang sudah akrab tentusudah ma'rifat." terang Syekh SitiJenar, jubahnya yang berwarna hitamberlapis kain merah tersibak angin pegunungan.

"Ma'rifat itu sendiri?" kerut KeboKenongo.

"Tahu, Mengetahui." berhenti sejenak."Namun tidak cukup itu, tentu saja harus diurai dengan maksud dan makna yang terarah.

Mengetahui tentang apa? Tahu tentang apa?
Tentu saja tentang dirinya dan Tuhannya. Bukankah terkait dengan makna akrab. Sehingga ada istilah kalau ingin mengenal Gustimu, Allahmu, maka harus mengenal dirimu sendiri." Lanjut Syekh Siti Jenar.

"Saya pernah mendengar, Syekh." Kebo Kenongo merenung.

"Bukankah Tuhan itu lebih dekat dari pada urat leher dan lehernya, bola mata putih
dengan hitamnya?"

"Tentu," Syekh Siti Jenar melirik kesamping.
"Namun itu sifatnya umum.Tidak masuk ke dalam makna akrab.Bahkan ma'rifat juga mungkin tidak."

"Bukankah untuk menuju ma'rifatpun tidak mudah, Syekh?
Tetapi ada tahapannya, yaitu Syariat, hakikat, tharikat, dan akhirnya ma'rifat." ujar
Kebo Kenongo.

"Harusnya demikian." Syekh Siti Jenar memutar lehernya seiring dengan tatapan matanya, tertuju ke puncak pegunungan.

"Bukan berarti orang harus memahami tahapan tadi. Karena tanpa memahami tahapan tadi pun
orang bisa berada dalam tingkat ma'rifat, disadari atau diluar  kesadarannya. Sebab tidak semua orang wajib tahu tetang sebuah istilah, yang penting adalah sebuah pencapaian, lantas bisa merasakannya."

"Bukankah istilah tadi hanya ada dalam agama Islam yang dianut Syekh sendiri." tambah Kebo Kenongo.

"Sedangkan dalam agama yang saya pahami tentu saja punya nama yang berbeda."

"Benar," timpal Syekh Siti Jenar.
"Namun tetap maksudnya sama. Hanya sebutannya saja yang berbeda. Sehingga saya tadi mengurai seperti itu."

"Ya." Kebo Kenongo menganggukan kepala.
"Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?" tanya Kebo Kenongo.

"Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh." Syekh Siti Jenar menatap langit,
"Lihatlah di sana, Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar diketinggian yang tidak bisa kita jangkau karena keterbatasan."

"Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?"

"Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur batas, menjauh dan mendekatkan." terang Syekh Siti Jenar.

"Maksud Syekh?" kerut Kebo Kenongo.
"Samakah dengan yang saya dengar tentang Isra Mi'rajnya Nabi Muhammad?"

"Ya, namun berbeda."

"Maksudnya?"

"Jika Rasulallah Isra Mi'raj dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Sedangkan saya tidak." ujar Syekh Siti Jenar.

"Saya kurang paham, Syekh?" Kebo Kenongo memijit keningnya.

"Ya, saya tidak bisa seperti Rasulallah. Sebab saya bukan beliau…" terang Syekh Siti Jenar.

"Namun saya bisa menyatu dengan kekuatannya dan dzatNya. Hingga ketika saya menghendaki berada di pusat Negeri Demak dengan sekejap itu bukan persoalan yang mustahil." tambahnya.

"Benarkah itu, Syekh?" Kebo Kenongo semakin mengkerutkan dahinya.

"Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti, maka tataplah saya! Jangan pula Ki Ageng berkedip! Karena kepergian saya ke pusat kota Demak Bintoro bagaikan kedip, kembali pun dihadapan Ki Ageng seperti itu pula. Saya dari pusat Kota Demak Bintoro akan membawa makanan segar."

Usai berkata-kata, samarlah wujud Syekh Siti Jenar, hingga akhirnya lenyap dari pandangan Kebo Kenongo.

"Lha," Kebo Kenongo menggosok- gosok kedua matanya.
"Benarkah yang sedang terjadi dan kuperhatikan ini?"

"Inilah makan segar dari pusat kota Demak Bintoro, Ki Ageng."

"Lha, aih..aih..!" Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya Syekh Siti Jenar sudah berdiri kembali seraya menyodorkan makanan hangat dengan bungkus daun pisang.

"Itulah yang bisa saya lakukan, Ki Ageng." ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk bersila di atas hamparan tikar pandan, dihadapannya terhidang dua bungkus makanan hangat yang
beralaskan daun pisang.

"Sekarang marilah kita makan ala kadarnya."

"Ya," Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan.
"Saya tidak sanggup untuk memikirkannya, Syekh? Kenapa andika hanya dalam
kedip pergi ke pusat kota Demak Bintoro untuk mendapatkan hidangan makan pagi. Padahal jika kita bejalan dari padepokan ini ke pusat kota Demak memakan waktu satu hari satu malam?"

"Benar, Ki Ageng Pengging." Syekh Siti Jenar mengangguk.
"Namun bukankah kita tidak sedang berbicara tentang perjalanan jasad?"

"Maksud, Syekh?"

"Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika saya pernah bercerita tentang Kanjeng Nabi Sulaiman AS.?" ujar Syekh Siti Jenar.

"Yang pernah Syekh baca dari ayat suci alquran itu? Saya agak lupa." Kebo Kenongo menempelkan telunjuk didahinya.

"Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman meminta kepada para pengagung negaranya untuk memindahkan kursiRatu Balqis ke istananya. Siapakah yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu yang sangat cepat, hingga jin Iprit menyanggupi."

"Ya, saya ingat, Syekh." Kebo Kenongo tersenyum.
"Namun bukankah Jin Iprit itu terlalu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman, karena dia meminta waktu saat Baginda Nabi bangkit dari tempat duduk maka singgasana akan pindah…"

"Benar, waktu seperti itu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman. Karena bangkit dari duduk
memerlukan waktu beberapa saat. Hingga berkatalah seorang ulama serta mengungkapkan kesanggupa nnya, yaitu hanya sekejap. Kanjeng Nabi Sulaiman berkedip maka Singgasana Ratu Balqis pun akan berhasil dia bawa. Hanya satu kedipan." terang Syekh Siti Jenar. "… dan terbuktilah kehebatan ulama tadi."

"Ya, benar, Syekh." ujar Kebo Kenongo,
"Itulah ilmu Allah. Mana mungkin bisa dicerna dan dipahami dengan keterbatasan berpikir
manusia."

"Tidak semua manusia seperti itu, Ki  Ageng." terang Syekh Siti Jenar.

"Itulah manusia kebanyakan, terkadang perkataannya dan pendalamannya dibidang ilmu
dangkal. Namun meski pun memiliki kedangkalan berpikir terkadang dalam dirinya mencuat pula rasa angkuh dan sombongnya. Jika hal itu terjadi maka akan gelap untuk meraba dan meraih
yang saya maksud."

Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa membukakan kebodohan dan
kekurangan diri kita…" timpal Kebo Kenongo.
"Namun dalam uraian tadi apa yang membedakan kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Jin Iprit dan Ulama?"

"Tentu saja sangat berbeda." Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, seraya menatap langit.
"Jin itu makhluk gaib, tidak aneh bagi bangsa mereka terbang, melayang-layang di angkasa, melesat secepat angin, menembus lubang sekecil lubang jarum, bahkan merubah wujud berbentuk apa pun yang dikehendakinya."

"Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?"

"Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menembus alam jin. Sebaliknya hanya jin tertentulah yang bisa menampakan diri pada manusia." terang Syekh Siti Jenar.

"Sehebat apa pun bangsa jin tentunya tidak bisa melebihi manusia."

"Bukankah pada zaman ini banyak pula orang-orang yang memiliki ilmu jin bahkan mengabdikan diri, karena ingin mendapat kesaktiannya." timpal Kebo Kenongo.
"Para dukun sakti saya rasa tidak terlepas dari kekuatan dan kesaktian atas bantuan bangsa jin
yang dijadikan tuannya."

"Itulah kedangkalan berpikir manusia, Ki Ageng. Mereka tidak melihat asal usul, jika manusia itu makhluk yang paling mulia di banding yang lainnya.Termasuk jin."

"Jika demikian, Syekh. Berarti kita harus menaklukan jin agar bisa memerintah mereka dan memanfaatkan kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan jin?"

"Kenapa tidak mungkin. Bukankah Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri prajuritnya terdiri dari bangsa jin,
selain binatang dan manusia?"

"Tapi untuk menaklukan bangsa jin tentu saja ilmu kita harus di atas mereka, Syekh?"

"Tentu saja, Ki Ageng." ujar Syekh Siti Jenar. "Namun jika kita sudah memiliki ilmu dan kesaktian sebetulnya menjadi tidak perlu memiliki dan menaklukan jin. Karena kita bukan raja seperti
Kanjeng Nabi Sulaiman, yang memerlukan prajurit dan abdi setia. Untuk dijadikan balatentara dan
membangun negara, dengan arsitek-arsitek yang kokoh. Jin dijaman nabi Sulaiman di suruh menyelami laut untuk mengambil mutiara, di suruh membangun keraton berlantaikan kaca yang membatasi kolam dibawahnya."

"Meski bukan raja kita juga butuh prajurit pengawal, Syekh?"

"Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang dijadikan prajurit pengawal. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak dikawal oleh bangsa jin, namun selalu disertai oleh Malaikat Jibril kemana
pun beliau pergi."

"Lalu haruskah Kanjeng Nabi menundukan Malaikat agar mengawalnya? Sakti mana dengan
jinnya Kanjeng Nabi Sulaiman?"

"Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari bangsa jin. Karena yang mencabut nyawa jin juga Malaikat seperti halnya nyawa manusia. Kanjeng Nabi Muhammad pun tidak perlu menundukan Malaikat, karena dengan sendirinya Malaikat akan diutus oleh Allah untuk menyertai orang-orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi
Muhammad." urai Syekh Siti Jenar.

"Syekh sendiri siapa yang mengawal?"

"Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah mengutus Malaikat untuk mengawal atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas
saya tidak dikawal oleh bangsa jin…"
Syekh Siti Jenar kembali duduk bersila.

"Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?"

"Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari dari keMaha Besaran Allah. Mungkin yang mengawal saya kemana pun pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga dengan ilmu itu saya pun bisa memanggil prajurit Allah yang empat." tambah Syekh Siti Jenar.

"Prajurit Allah?" kerut Kebo Kenongo.
"Apakah para Malaikat? Kalau di dalam agama saya para Dewa dan Hyang Jagatnata, penguasa triloka."

"Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya tidak akan berbicara tentang para Dewa." berhenti sejenak, lalu tatapan matanya menyapu wajah Kebo Kenongo.
"Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,"

"Kenapa bukan Malaikat? Bukankah Malaikat bisa mencabut nyawa manusia dan bangsa jin yang goib?"tanya Kebo Kenongo.

"Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita.Hanya yang membedakan kita dengan Malaikat, dia adalah goib. Malaikat memiliki keimanan tetap dan tidak
pernah berubah, berbeda dengan bangsa manusia dan jin. Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia makhluk yang paling mulia, tetapi sebaliknya derajat kemulian yang diberikan Allah kepada manusia akan lenyap. Bahkan manusia akan didapati sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah binatang." urai Syekh Siti Jenar.

"Lalu prajurit yang dimaksud?"

"Yang dimaksud prajurit tentu saja penyerang, penghancur, perusak, dengan segala tugas yang diembannya."

"Mungkinkah mirip dengan Dewa Syiwa?"

"Mungkin, Ki Ageng." Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. "Sedangkan prajurit Allah yang empat disini pun fungsi dan tugasnya untuk menghancurkan, merusak, dengan tujuan manusia berbalik pada jalan lurus. Mengingatkan kekeliruan yang pernah diperbuat oleh para khalifah bumi. Tujuannya
tentu saja menyadarkan, jika yang mendapatkan taufiq dan hidayah. Adzab dan siksa bagi mereka yang tidak pernah mau bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus."

"Lalu siapa yang dimaksud dengan prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?"

"Prajurit Allah yang empat itu diantaranya…" Syekh Siti Jenar melangkahkan kakinya perlahan. "…
pertama adalah angin. Lihatlah angin yang lembut dan sepoi-sepoi, namun perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa memporak-porandakan bangunan sehebat apapun, menghancurkan pohon-pohon yang tertancap kokoh, menerbangkan segala hal yang mesti diterbangkannya, bahkan menghancurkan sebuah kota atau perkampungan. Lantas ketika angin mengamuk siapa yang bisa membendung dan menghalang-halangi?"

"Tidak ada, Syekh."

"Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia angin pada syariatnya. Padahal angin itu hakikatnnya membawa pesan pada manusia, pada para khalifah bumi, agar menyadari
kekeliruan yang pernah diperbuatnnya. Manusia yang melakukan kerusakan di muka bumi maka akan kembali pada perbuatannya, akibatnya. Namun dalam hal ini manusia hanya memandang sebelah mata pada hakikat angin. Mereka lebih banyak bercerita dan memandang akan hal yang berbau logika dan penalaran semata, karena itu semua akibat dari keterbatasan ilmu yang
dimilikinya. Ilmu yang manusia miliki tidak mencakup berbagai hal, namun terbatas hanya pada bidangnya saja. Sehingga manusia terkadang melupakan Allah yang memiliki lautan ilmu." urai Syekh Siti Jenar, seraya langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di tepi jalan, matanya menyapu
tingginya puncak gunung yang diselimuti awan putih yang berlapis-lapis.

"Bukankah manusia akan selalu merasa pintar jika seandainya berhasilmenangani sedikit persoalan saja, Syekh?"

"Itulah manusia. Namun tidak semuanya seperti itu. Tetapi itulah watak orang kebanyakan. Maka jika demikian tertutuplah pintu ilmu berikutnya, terhalang oleh keangkuhan dan kecongkakan yang terselip dalam batinnya." ujar Syekh Siti Jenar.

"Berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang batinnya terang. Dia tidak akan pernah berbuat
congkak, apalagi sombong, yang bisa membutakan mata hatinya. Sehingga orang seperti itu akan selamanya sanggup memahami segala hal dengan jernih…."

"…sangat sulit, Syekh." Kebo Kenongo menarik napas dalam-dalam. "…pantas saja diri Syekh bisa terangkat pada derajat ma'rifat, karena telah sanggup membersihkan batin dari noda-noda tadi. Mungkin saya sulit mencapai ma'rifat tadi karena batin ini masih dijejali dan dikotori hal-hal yang
membutakan, menghalangi, mengganggu dan merintangi. Pada intinya masih berbau keangkuhan,
kesombongan, angkara, rasa iri dan dengki. Namun rasanya sulit untuk melepaskan hal-hal tadi, Syekh.

Mungkin karena kesulitan itu datang akibat kita berada dalam hiruk pikuk kemewahan duniawi, yang selalu hadirdi sisi kiri, kanan, depan, dan belakang kita?"

"…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah setiap manusia hidup memerlukan kebutuhan jasadiyah?" timpal Syekh Siti Jenar.

"Duniawi adalah kebutuhan lahiryah, sedangkan menuju ma'rifat adalah proses perjalanan batin menuju akrab."

"Benar, Syehk. Namun jika gangguan duniawi sangat terlalu kuat, bisa menggelapkan mata batin. Sehingga kita selalu memperjuangkan kepentingan jasadiyah tanpa kendali dan melupakan kebutuhan batinnya. Nah, untuk menyeimbangkan itulah yang sangat sulit."

"Sebetulnya kita tidak perlu seimbang dulu. Namun itu terlalu berat untuk kebanyakan orang dan tidak mungkin dapat tercapai. Sebab bagi yang telah ma'rifat dan akrab tidak perlu jauh melangkah tinggal mengatakannya, apa yang diinginkan akan datang atau berada dalam genggaman." terang
Syekh Siti Jenar, lantas membuka telapak tangannya dan diacungkan ke langit, lalu dikepalkan.

"…lihatlah! Inikah yang Ki Ageng inginkan?"

"Syekh, rasanya sangat berat untuk menempuh jalan ma'rifat." Kebo Kenongo nampak tidak ceria.

"Ya, tentu saja."

"Mungkinkah saya harus bertahap? Menurut tahapan ilmu, Syekh?"

"Tidak selalu, Ki Ageng Pengging." Syekh Siti Jenar perlahan bangkit dari duduknya. "Bukankah saya menyarankan jika seandainya andika kesulitan mengikuti ilmu Islam, hendaknya ikutilah ajaran agama yang andika anut. Bukankah andika tinggal satu atau dua langkah lagi menuju
ma'rifat, setelah itu akrab. Orang yang akrab dengan Allah itulah seperti yang pernah saya uraikan sebelumnya."

"Ya," Kebo Kenongo menggeleng,
"Itu dibicarakan sangatlah mudah, Syekh. Namun untuk melaksanakannya terasa berat, dan sulit untuk membuka tabirnya. Jika sekali saja tabir itu sudah terbuka tentulah berikutnya akan lebih mudah."

"Benar," Syekh Siti Jenar terdiam sejenak, matanya yang sejuk dan tajam beradu tatap dengan Kebo Kenongo. "Ya, hanya Sunan Kalijaga yang bisa…" gumamnya.

"Sunan Kalijaga?"

"Tidak perlu dipikirkan! Apalagi mempertanyakannya." Syekh Siti Jenar kembali ke tempat duduknya.

"Benar, Syekh. Andika selain bisa membaca keinginan batin saya juga dapat membuktikannya hanya dengan mengepalkan tangan." Kebo Kenongo menggeleng-gelengkan kepala, seraya memujinya

Modus Korupsi Pengadaan Kapal Fiktif di Kementrian Perhubungan Rp. 36,5 Milyar, Polri: Uang Negara Dibayarkan Tapi KapalNya Tidak Ada

Modus Korupsi Pengadaan Kapal Fiktif di Kementrian Perhubungan Rp. 36,5 Milyar,
Polri: Uang Negara Dibayarkan Tapi KapalNya Tidak Ada
Kapal Abal-abal Rp 36,5 M di Kemenhub, Polri: Uang Dibayar Kapal Tak Ada
Mabes Polri menjamin menindaklanjuti dugaan korupsi yang dilaporkan Itjen Kemenhub terkait pengadaan kapal patroli laut Rp 36,5 miliar di Ditjen Kemenhub. Laporan itu sudah diterima dan akan diselidiki lebih dahulu.

"Kita pelajari apa yang sudah diceritakan tadi, kronologinya bahwa di tahun anggaran 2013-2014 itu di DIPA-nya ada pengadaan kapal patroli yang ternyata sudah tutup anggaran. Kapal ini belum ada sementara pengeluarannya sudah dinyatakan lengkap dan dibayar 100% tapi kapal belum ada. Terus ada juga uang sudah dibayar 100%, kapalnya ada tapi baru jadi 60%. Sehingga internal melakukan (buat laporan)," ujar Kabareskrim Komjen Ari Dono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (26/7/2016).

Ari mengatakan penyelidikan tidak hanya dilakukan kepada internal Ditjen Perhubungan Laut yang melakukan pengadaan kapal. Akan tetapi juga memeriksa perusahaan pembuat kapal patroli tersebut.

"Kalau tadi perusahaannya tergantung, mengadakan nggak sih. Itu tergantungkan, misalnya ini ada saya bikin ternyata uang itu tidak dipesankan perusahaan, perusahaan itu hanya bodong saja itu bisa aja. Makanya kita katakan perusahaan kena berapa orang itu belum," imbuhnya.

Menurutnya perkara ini akan jadi terang benderang setelah pemeriksaan KPA (Kuasa Pengguna Anggaran). "Dia melaksanakan betul buat kapal, atau betul mengadakan lelang tidak. Gitu loh, jadi berapa dan siapanya ya itu nanti," bebernya.

Sementara secara terpisah Irjen Kemenhub Cris Kutandi menjelaskan modus yang dilakukan dalam pengadaan lelang membuat pertangungjawaban palsu. Sehingga akhirnya kapal itu seolah-olah telah selesai diterima.

"Akhirnya bendahara atau yang tugas membayar, membayar oh karena sudah selesai semuanya. Padahal di lapangan kapal itu belum ada," imbuh Cris.

Cris menegaskan audit yang dilakukan adalah hal rutin dan temuan masalah sekecil apapun akan ditindaklanjuti. Untuk bukti pihaknya mengizinkan penyidik Bareskrim menggeledah kantor Kemenhub.

"Laporan hasil audit kami sampaikan, dan beberapa kontrak menyusul jadi mulai besok mereka ke kemenhub Itjen untuk mengambil dokumen yang sudah kita siapkan," pungkasnya.



Sabtu, 23 Juli 2016

Perlakuan Buruk PLN Pada pemerintah

Perlakuan Buruk PLN Pada pemerintah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengkritik sikap PT Perusahaan Listrik Negara ( PLN) yang kerap memprotes kebijakan pemerintah. Padahal semua kebijakan selalu dirapatkan terlebih dulu bersama PLN.

"Bangun listrik bukan urusan unjuk power, urusannya nyala atau tidak. Saya tidak mau ada catatan kegagalan proyek listrik 35.000 MW itu akibat perilaku pimpinannya," kata Sudirman di Ditjen Ketenagalistrikan, Jakarta, Jumat ( 22/7).

Sudirman kemudian meminta agar PT PLN tidak membangkang dengan membuat kebijakan sendiri. Dia mencontohkan, salah satunya kasus PLN yang membangkang permen 19 tentang penetapan tarif PLTMH, di mana perusahaan plat merah saat itu malah menurunkan harga tarif setrum dari PLTMH yang dibangun oleh Independen Power Producer (IPP).

"DPR pernah marah-marah kok PLN engga pernah hadir kalau lagi rapat dan segala macam. Tapi kalau terus main di belakang itu kurang modern. Jangan gitu lah," kata dia.

Untuk itu, dirinya meminta ke depannya agar Direktur Utama PLN, Sofyan Basyir menghadiri undangan-undangan terutama dalam membahas kebijakan publik.

"You can buy perseption, you can't buy reality. Saya mau bangun kenyataan. Pak Sofyan 2 tahun engga pernah duduk di ruangan saya. Yang paling sering itu, acara-acara yang kita undang, dirut PLN tidak pernah ada," tuturnya.

"Terakhir, menurut saya masa depan sebuah kebohongan, kesewenang-wenangan, penindasan, mafia, itu akan suram. Siapapun pemimpin yang begitu masa depannya suram. Yang bohong kesana kemari masa depannya suram," pungkasnya.



Selasa, 19 Juli 2016

Pendiri Partai Demokrat Minta SBY Harus Mengundurkan Diri Atau Dilengserkan

Pendiri Partai Demokrat Minta SBY Harus Mengundurkan Diri Atau Dilengserkan
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua umum Partai Demokrat. 

Desakan ini diutarakan salah satu pendiri Partai Demokrat, Hencky Luntungan sebagaimana dilansir dari Kantor Berita Politik RMOL melalui saluran telepon, sesaat lalu. 

Menurut Hencky, selain alasan elektabilitas partai turun, juga karena sekarang SBY sedang menghadapi gugatan sejumlah kader bintang mercy baik di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat maupun Pengadilan Tata Usaha Negara Jakartta Timur. 

"Beliau tidak bisa mengadakan sebuah perbaikan. Dalam kondisi ini kan daya tariknya sudah enggak ada, wong  beliau presiden saja hancur partainya, apalagi beliau nggak presiden," ungkap Hencky. 

Jika hasil survei sebuah koran media nasional, elektabilitas Partai Demokrat anjlok hingga 4,5 persen, justru dari penghitungannya sudah hancur berantakan.


"(elektabilitas Partai Demokrat) Sudah tinggal tiga persen paling hebat," beber Hencky yang juga ketua Indobarometer ini.

Sebagai salah satu pendiri yang ikut berjuang dari titik tiada menjadi ada dan menang, ia berharap SBY legowo untuk mundur ketimbang partai ini lebih hancur. Pilihan lain, menurut dia, SBY dimundurkan dengan tidak hormat lewat Kongres Luar Biasa. 

"Kalau bicara pendiri, tentunya komunitas pendiri itu dari 99 orang kan tidak satu suara. Tapi kami asli pendiri, yang mendirikan partai ini, bukan partai ini diciptakan di Cikeas," tegasnya.

Hencky kembali menekankan, elektabilitas partai yang kian drop ini sulit untuk diselamatkan jika SBY tetap bercokol sebagai ketum. "Dengan menghadapi tiga masalah cukup berat, apalagi dia akan konsolidasikan, susah," cetusnya.

Menurut Hencky, selama ini SBY telah menjalankan sistem feodalisme di dalam kepartaian, bahkan ketika menjadi ketua dewan pembina. Satu per satu kader dan deklator di daerah langsung dipecat karena bersuara kritis. Hingga hanya tersisa satu deklator di Riau.  

"Apalagi ketika dia melibatkan Ibas (Edhie Baskoro), yang tidak tahu apa-apa tentang partai ini. Kemudian dia melangkahi dan melupakan sejarah partai ini bahwa partai ini hanya didirikan di Cikeas, itu sangat naif, itu bahaya," pungkas sosok yang juga terlibat dalam Badan Penyelamat Partai Demokrat yang melengserkan Anas Urbaningrum ini.


Bagaimana Orang Arab Memperlakukan Orang Indonesia & Bangsa Lain

Bagaimana Orang Arab Memperlakukan Orang Indonesia & Bangsa Lain
Saya membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa saya, Indonesia tercinta.

Bukan pula menyerang negara Arab, khususnya Arab Saudi tempat di mana saya berdomisili saat ini.

Tujuan tulisan singkat saya ini untuk membangunkan teman-teman, kakak, dan adik-adik saya dan sesama saudara warga negara Indonesia di mana saja berada.

Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa dijadikan panutan/pedoman, serta mana pula yang harus diwaspadai.

Harapan saya hanya satu:
Semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa ini -termasuk saya- tidak menjadi bangsa yang inferior(rendah diri), tidak mudah kagum, dan tidak mudah menjadi beo.

Begini, saya melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya yang pro-Arab) itu unik, menarik, dan lucu.

Negara-negara Arab, khususnya Teluk itu "sangat Barat" dan jelas2 pro-Amerika (dan Inggris).

Hampir semua produk2 Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast foods) sampai yg berkelas dan bermerk untuk kalangan berduit, semua ada di kawasan ini.

Mall-mall megah dibangun, a.l., untuk menampung produk-produk Barat tadi.

Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping
(bahkan terkadang lalai dengan sembahyang).

Orang-orang Barat juga mendapat "perlakuan spesial" disini, khususnya yang bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah).

Mayoritas orang-orang Arab juga sangat hormat & inferior(rendah diri) terhadap orang-orang Barat.

Saya sering jalan bareng bersama "kolega bule"-ku ke tempat pameran barang-barang branded tsb, dan mereka menganggap saya adalah "jongosnya".

Bagi orang2 Arab, non-bule darimanapun asalnya apapun agama mereka adalah "Kelas Buruh", sementara org bule, sekere & sebego apapun mereka, beragama atau tidak beragama, dianggap "kelas elit".

Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu "siapa kita".

Sejumlah universitas2 beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk, selain Saudi, (Georgetown, New York Univ, Texas A & M, Carnegie Melon Univ, dll).

Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat, khususnya Amerika, Kanada & Eropa (jg Aussie).

Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia!! !
Sementara (sebagian) warga Indo memimpikan belajar di Arab Saudi.

Lucunya, para fans/penyembah Arab Saudi dan Arab-Arab lainnya di Indonesia, mereka mati-matian men-tuan-kan Arab, sementara Arab sendiri tidak "menggubris" mereka (penyembah Arab).

Para "cheerleaders/pengidola" Arab ini (para fans Arab di Indonesia),
juga mati2an anti-Barat padahal orang-orang Arab mati-matian membela Barat.

Kita bertutur memakai istilah bahasa mereka (akhi, ukhty, antum, dan berbagai istilah arab lainnya, padahal, mereka merendahkan kita). Kita seolah gagal faham untuk membedakan antara Islam dan Arab.
Islam menghargai kita sedangkan Arab menganggap kita ini bangsa budak.

Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman-teman baikku banyak sekali dari "dua dunia" ini.

Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya yang tetap orang kampungan Jawa.

Daripada "menjadi Arab" atau "menjadi Barat", akan lebih baik jika kita menjadi "diri kita sendiri" yang tetap menghargai warisan tradisi dan kebudayaan leluhur kita.

Itulah orang Saudi, mereka menganggap kecil terhadap orang Indonesia, di hotel, di kantor, bahkan mrk menyangka saya cuma tenaga profesional ecek ecek, mereka tanya gaji, disangka CUMA 2 ribu atau 3 ribu Real. (1 real = 3700)

Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama dengan orang Amerika atau Inggris, dan mereka tanya kok bisa begitu.

Saya bilang, saya pernah training di Inggris dan di Amerika, dan ternyata gaji saya lebih besar dari gaji dokter Saudi.

Itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan di Abu Dhabi yang tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau Nationality profiling.

Mudah-mudahan pemerintah tidak mengirim lagi TKI atau TKW sehingga mereka tidak menganggap orang Indonesia bangsa budak.

Tetapi kirim tenaga terdidik, terutama yang menguasai bahasa Inggris.

Sekali lagi:

Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat saya cuma orang Jawa – Indonesia yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga ahli yang dibayar berdasarkan keahliannya.

Suatu hari, dan ini bukan untuk menyombongkan diri, saya merasa bangga ketika saya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, saya dijemput oleh sopir orang Arab berasal dari Thaif.
Itu kebanggaan saya, karena biasanya yg jadi sopir itu orang Indonesia.

Mudah-mudahan kita tidak jadi bangsa budak dan budak diantara bangsa lain.

Belum lama ini sy mengadakan survei dg responden para mahasiswaku (sekitar 100 mhs) yg mayoritas beretnik Arab & Saudi. Survei ini bersifat "confidential" dan identitas mahasiswa tdk diketahui. Salah satu pertanyaan dlm survei adl: "Agar lebih Islami, apakah masyarakat Muslim non-Arab harus meniru & mencontoh masyarakat Arab & menjalankan kebudayaan mrk?" Jawaban mrk, sekitar 60% bilang "tidak", 12% bilang "ya", selebihnya "mungkin" & "tidak tahu".

Saya tdk tahu secara pasti apakah jawaban mrk itu ada kaitannya dg "doktrin2" pentingnya menghargai pluralitas budaya, agama, & masyarakat yg selama ini sy "ajarkan" di kelas atau mungkin karena pengaruh pendidikan yg semakin meningkat atau gelombang modernisasi & "internetisasi" yg mewabah di kawasan Arab.

Apapun faktor2nya yg jelas hasil survei ini "sedikit menggembirakan" (setidaknya buatku), meskipun masih bny tantangan cukup besar menghadang di depan mata. Bukan suatu hal yg mustahal jika kelak kaum Muslim Arab & Saudi khususnya bisa menjadi lebih maju, terbuka, dan toleran. Dan bukan suatu hal yg mustahal pula jika kelak kaum Muslim Indonesia justru "nyungsep" menjadi umat yg bebal, tertutup, dan intoleran.

Di saat masyarakat Arab mulai lelah dg konflik & kekerasan serta mulai menyadari pentingnya keragaman & hidup bertoleransi, sejumlah kaum Muslim di Indonesia justru menjadi umat intoleran dan anti-kemajemukan…

Penulis: Sumanto Al Qurtuby, seorang professor Warga Negara Indonesia, dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.