Minggu, 22 Agustus 2021

“Islam Madani” Versus “Islam Medeni”

Kontestasi "Islam Madani" versus "Islam Medeni"
By Sumanto al Qurtuby

Upaya Mengatisipasi Radikalisme Di Indonesia - Suaradewata.com

"Islam madani" versus "Islam medeni": Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Simak pasang surutnya di peta politik Indonesia dalam kolom Sumanto al Qurtuby.

Belum lama ini saya memberi kuliah umum secara daring di Program Studi Islam Madani (Falsafah dan Agama), Universitas Paramadina, tentang kontestasi antara kelompok "Islam madani" versus "Islam medeni" di Indonesia dan Arab Saudi.

Yang dimaksud "Islam madani" di sini kurang lebih adalah jenis keislaman yang bercorak moderat,toleran, inklusif, dan pro-kebhinekaan serta menjunjung tinggi keadaban dan tradisi berpikir kritis-akademis dalam memahami wacana keagamaan, keislaman, dan sosial-

kemasyarakatan. Inilah jenis keislaman yang diidealkan, diperjuangkan, sekaligus ingin diwujudkan di Indonesia oleh almarhum Profesor Nurcholish Madjid (Cak Nur), pendiri Universitas Paramadina. Nama "paramadina" sendiri mengandaikan "Islam madani" itu yang diinspirasi oleh penggantian nama Yatsrib menjadi Madinah oleh Nabi Muhammad.

Sementara itu, yang dimaksud "Islam medeni" di sini kira-kira adalah jenis keislaman yang bercorak radikal-ektremis, eksklusif, intoleran, anti-keragaman, suka bertindak atau mendahulukan kekerasan (radikalisme) dalam menyelesaikan masalah sosial-keagamaan serta minus pikiran kritis-akademis dalam memahami dan menafsirkan teks dan wacana keislaman dan keagamaan.

Kata "medeni" di sini diambil dari bahasa Jawa yang berarti "menakutkan" karena memang tampilan mereka yang menakutkan masyarakat luas lantaran suka main kasar, "ngamukan" dan hobi berbuat onar di masyarakat.

Ekspresi atau tampilan kedua kelompok ini di masyarakat tidak sama. Misalnya, kelompok "Islam medeni" itu bervariasi ekspresinya. Ada yang "ultraekstrem" dan mematikan seperti kelompok teroris yang suka ngebom di tempat-tempat umum: tempat ibadah, hotel, restauran, café, kantor polisi dlsb.

Ada yang suka melakukan aksi-aksi vigilantisme atau persekusi seperti menggeruduk umat agama, sekte, atau kelompok Islam lain yang tidak sepaham atau sehaluan dengan mereka. Ada pula yang suka melakukan "kekerasan verbal" melalui perkataan atau ucapan seperti ujaran kebencian (hate speech), provokasi, dan pernyataan intoleransi terhadap kelompok lain.

Kelompok "Islam madani" pun demikian. Ada yang sebatas "moderat" dan "toleran", baik dalam perkataan maupun tindakan. Ada pula yang tingkatannya lebih tinggi sedikit, yaitu sikap "pluralis" (atau mereka yang berpegang pada prinsip pluralisme) yang bukan hanya sebatas bersikap moderat dan toleran terhadap umat agama lain tetapi juga diiringi dengan tindakan "deep engagement and dialogue", baik melalui tindakan pergumulan fisik (bahasa Jawa: "srawung") maupun dengan mempelajari serta keinginan kuat untuk mengetahui dan menggali lebih jauh aneka ragam praktik keagamaan umat lain.

Aneka ragam kelompok

Penting untuk diketahui bahwa baik kelompok "Islam madani" maupun kelompok "Islam medeni" bukanlah unik Indonesia. Hampir di setiap negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim, memiliki kelompok ini. Bahkan di negara-negara di Eropa, Amerika Utara, atau Australia dlsb, kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" juga ada.

Tentu saja, "ekstremisme" dan "moderatisme" bukan hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain pun memiliki kecenderungan yang sama: ada kelompok agama yang bercorak ekstrem di satu sisi, dan moderat di pihak lain.

Kedua kelompok ini saling berebut pengaruh di masyarakat untuk merebut "hati" umat Islam. Dalam sejarah Islam, fenomena ini bukanlah hal baru sebetulnya. Sudah sejak masa awal formasi Islam di abad ke-7 M, kontestasi antara kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" ini sudah ada yang kemudian kelak menjadi aneka ragam mazhab, aliran, sekte, atau kelompok keislaman.

Dalam konteks Islam, perseteruan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad (w. 632 M) menyebabkan umat Islam terbelah menjadi aneka ragam kelompok sektarian dengan beragam ekspresi sosial-kepolitikan dan keislaman.

Ada kelompok yang "pasrah" serta mengedepankan "quietism" dan "apolitis" seperti Murji'ah tetapi ada pula kelompok yang sangat ekstrem dan frontal melakukan tindakan kekerasan bahkan dengan melancarkan serangkaian aksi pembunuhan sistematis pada para tokoh dan sekelompok Muslim yang berseberangan dengan mereka seperti yang dilakukan oleh kaum Khawarij.  

Dari dulu hingga kini, mereka sama-sama mengembangkan strategi, mekanisme, cara, dan taktik tertentu dalam berdakwah, "berjuang", bersosialisasi, dan bermasyarakat agar mendapat simpati publikMuslim dan banyak pengikut.

Bedanya, kelompok "Islam medeni" tidak sungkan-sungkan menggunakan pendekatan kekerasan (fisik maupun verbal) sedangkan kelompok "Islam madani" tidak menyukai kekerasan fisik tetapi lebih menyukai atau mengedepankan "perang pemikiran" (battle of thought).

Mereka juga sama-sama menggunakan legitimasi atau justifikasi teks-teks keislaman yang diambil dari Al-Qur'an, Hadis, atau dalam konteks kontemporer ditambah kitab-kitab atau pendapat (aqwal) para ulama panutan mereka, baik yang klasik maupun modern, guna mendukung dan memperkuat pendapat, pemikiran, dan praktik keagamaan yang mereka lakukan.

Pula, khususnya dalam konteks kontemporer seiring dengan perkembangan teknologi, mereka menggunakan beragam media (cetak, visual, audio-visual, online atau melalui perkumpulan dan pengajian rutin) dan aneka institusi (masjid, madrasah, ormas, Islamic center dlsb) untuk menyebarluaskan ide-ide mereka. Dulu, perseteruan dilakukan melalui masjid atau forum-forum pertemuan publik saja.

Menjalin patronase dengan kekuasaan

Dalam sejarahnya dan bahkan hingga kini, baik kelompok "Islam madani" maupun "Islam medeni" sama-sama berusaha menjalin patronase dengan kekuasaan (rezim politik) untuk melanggengkan gagasan dan visi-misi mereka di masyarakat. Hal itu bisa dimaklumi karena kekuasaan politiklah yang mempunyai atau memegang otoritas dan akses terhadap sumber-sumber ekonomi, finansial, dan kepolitikan.

Dalam upaya untuk berpatron dengan kekuasaan ini, ada kalanya kelompok "Islam madani" yang berhasil dan kemudian ikut mengontrol produksi wacana keislaman tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang berhasil "berbulan madu" atau bersinergi dengan kekuasaan yang kemudian "membabat" habis rival-rival politik dan agama mereka. Misalnya, kelompok Sahwa di Arab Saudi untuk contoh "Islam medeni" di awal 1980an tetapi sejak beberapa tahun terakhir, kelompok "Islam madani" yang berpatron dengan pemerintah.

Tetapi ada pula yang kemudian berubah, mengalami transformasi atau menjelma dari kelompok agama menjadi kelompok politik karena sukses mengontrol teritori negara. Contohnya, untuk kasus "Islam medeni", adalah fenomena kaum Taliban di Afghanistan pada pertengahan 1990an atau kelompok "Revolusi Islam" di Iran pada akhir 1970an.

Kalau melihat data-data sejarah dari dulu hingga kini, kelompok "Islam madani" yang lebih banyak "diatas angin" dalam pengertian sukses menjalin koalisi dengan otoritas politik. Meskipun di beberapa negara yang mayoritas berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika (sebut saja Mesir, Lebanon, Palestina, Sudan, Aljazair, Iran, atau Yaman) kontestasi kedua kelompok cukup dinamis dan fluktuatif dari waktu ke waktu dalam hal perebutan akses kekuasaan politik-pemerintahan.

Ada kalanya kelompok "Islam madani" yang unggul tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang sukses.

Siapa yang menang?

Dalam konteks Indonesia, kontestasi kedua kelompok selalu dimenangkan oleh "Islam madani", meskipun sudah sejak awal kemerdekaan kelompok "Islam medeni" berusaha merebut, mengontrol, dan mendominasi kekuasan dan negara seperti yang dilakukan oleh para pendukung Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (didirikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pada tahun 1949)

Baik Sukarno maupun Suharto sama-sama antikelompok "Islam medeni", meskipun di akhir-akhir kekuasaan Pak Harto ia menjalin "kongkalikong" dengan kelompok "Islam medeni" untuk mengimbangi atau membendung gerakan "Islam madani" yang mulai berani mengkritik kekuasan, pemerintah, dan Pak Harto.

Setelah Pak Harto tumbang, kelompok "Islam medeni" mendapatkan "angin surga". Mereka terus berusaha menggelembungkan diri dengan berbagai cara, misalnya memperbanyak ormas, membuat sekolah, atau secara terbuka berceramah. Jadi, demokrasi adalah "berkah" buat kelompok karena demokrasilah mereka bisa berkembang biak. Ironisnya, mereka sering mengkritik demokrasi karena dianggap produk sekuler-Barat yang tidak Islami.

Kelompok "Islam medeni" juga terus berusaha mempengaruhi para pemangku kebijakan (pemerintah atau politisi) untuk memuluskan jalan bagi pembuatan berbagai peraturan hukum (Perda, Pergub, Surat Edaran, dlsb) yang diambil dari aturan hukum Islam tertentu.

Meskipun demikian, hingga kini, kelompok "Islam medeni" ini belum berhasil menguasai kekuasaan politik-pemerintahan. Nasib mereka semakin tersungkur karena Presiden Joko Widodo dan jajarannya mulai gencar membungkam kelompok ini serta memangkas jaringan dan sel-sel mereka. Itu belum lagi ditambah gerakan masif-intensif yang dilakukan oleh para eksponen "Islam madani" seperti Nahdlatul Ulama yang gencar "memerangi" pemikiran dan gagasan "Islam medeni".

Bagaimana "nasib" kelompok "Islam medeni" ini ke depan? Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Waktu nanti yang akan menjawabnya.
 
Sumanto Al Qurtuby adalah Direktur Nusantara Institute; dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi; Visiting Senior Scholar di National University of Singapore, dan kontributor di Middle East Institute, Washington, D.C

Jumat, 13 Agustus 2021

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Anies dan Khofifah Hadiri Kongres Partai Nasdem, Apa Maknanya?

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dinilai mejadi kelihatan otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Jatim pada Jumat (13/8/2021), menanggapi polemik yang muncul akibat perilaku Khofifah dalam menangani pandemi covid-19. Dimana sebelumnya Khofifah menyatakan bahwa ada daerah di Jatim yakni Surabaya dan Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity atau kekebalan komunal.

Klaimnya yang dimuat dan viral di berbagai media itu tentu saja memicu kritik, saran dan masukan dari masyarakat agar sebagai Gubernur . Khofifah tidak sembarangan klaim bahwa sudah ada Herd Immunity di Jatim.  Karena jika sudah ada Herd immunity, tentunya tidak perlu lagi ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan dalih untuk mencegah meluasnya penularan covid-19.

Setelah panen kritik, tiba-tiba Khofifah menyangkal bahwa sebelumnya dia pernah menyatakan bahwa kota Mojokerto dan kota Surabaya sudah mencapai Herd Immunity.

Untuk itu entah ada faktor apa, ada media yang menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity" dan menggantinya dengan berita lain. Akan tetapi sebelum dihapus dan diganti dengan berita lain, sudah banyak masyarakat yang melakukan screenshoot atau tangkap layar atas berita tersebut, sehingga jejak digital tidak sempat terhapus/hilang.

Sedangkan beberapa media tidak mau menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity", karena bisa jadi mereka memang mendengar pernyataan Khofifah seperti itu dan atau memiliki rekamannya.

" Dari rentetan ini, Khofifah terlihat otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat", kata Sapto Raharjanto, ketua DPW Seknas Jokowi Jatim.

Sebagaimana viral diberitakan, pada Jumat 6 Agustus 2021 Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebut Surabaya dan kota Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity.

Dengan pernyataannya itu, Khofifah diingatkan oleh berbagai kalangan masyarakat, diantaranya oleh Deni Wicaksono, anggota Komisi E DPRD Jatim yang menbidangi kesehatan, agar hati-hati membuat narasi atau klaim adanya pencapaian herd immunity pada sejumlah daerah di Jatim.

Saran atau nasehat yang diberikan oleh Deni pada Sabtu 7 Agustus 2021 itu karena herd immunity baru terwujud ketika sebagian besar orang dalam kelompok sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi. Salah satu jalannya lewat vaksinasi. Konsensus ahli, sekitar 70 persen warga tervaksin, tapi dalam konteks Covid-19, itu tercapai ketika sudah lengkap dua dosis. Faktanya, tidak ada satu pun kabupaten/kota atau provinsi di Indonesia yang telah mencapai itu.

Deni menyebut pernyataan  Khofifah itu menjerumuskan karena berpotensi membuat masyarakat di daerah yang disebut Khofifah sudah herd immunity lengah terhadap Covid-19 yang masih mengganas.

Pernyataan Khofifah itu menurut Deni, juga juga berpotensi mengadu domba karena publik di daerah tersebut akan memprotes keras pemerintah kota atau kabupatennya, mengapa tetap ada pembatasan (PPKM) ketika herd immunity sudah diklaim oleh Gubernur Jatim

Begitu diingatkan atau diberi saran, entah ada apa sontak beberapa media menghapus berita yang berisi klaim Khofifah bahwa di Jatim sudah ada daerah yang mencapa herd immunity, akan tetapi beberapa media lain tidak mau menghapus pemberitaan tersebut.

Dan pada Senin 9 Agustus 2021, saat mengudara pada sebuah acara radio sebagaimana disiarkan https://www.instagram.com/p/CSWLCmlMCbw/ , Khofifah menyangkal bahwa dirinya pernah bilang bahwa Kota Mojokerto dan Surabaya sudah mencapai herd immunity.

Bantahan Khofifah pada siaran tersebut akhirnya menuai banyak kritik dari para pemirsa, diantaranya yang disuarakan oleh @umaralhakimhakim yang menyatakan "Alasane uakeh (alasannya buanyak), pemimpin yang baik itu sebelum melempar pernyataan harus disesuaikan dengan data dan realita".

Sedangkan @andik_rekkles berkomentar "Omonganmu mbulet koyo... (Bicaramu ruwet/ silang sengkarut seperti...)"

Malah ada yang sinis seperti @erryseptiawan yang menyindir "Ayo bu pesta ulang tahun maneh, mumpung PPKM belum ditutup (Ayo bu pesta ulang tahun lagi, mumpung PPKM belum ditutup)


Ketua Seknas Jokowi Jatim
Sapto Raharjanto
HP/WA: 082141751575

Selasa, 03 Agustus 2021

KETIKA SUNDA MENJADI ARAB..

KETIKA SUNDA MENJADI ARAB..
Apa yang sebenarnya dibutuhkan Jawa Barat ?


Jelajah Budaya Tanah Sunda

Jawa barat - menurut Wahid Foundation - adalah provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi.

"Tingginya angka intoleransi di Jawa Barat menjadi kontradiktif dengan kultur dan budaya masyarakat Sunda sebagai 90 persen suku yang tinggal di Jabar yang terkenal sebagai masyarakat yang toleran, optimistis, periang, sopan, dan bersahaja," Begitu kata Mujahidin Nur Direktur The Islah Center TIC.

Memang kontradiktif. Betapa semua keluhuran tinggi budaya Sunda yang tercermin dari rakyatnya, menuju binasa dengan masuknya budaya timur tengah yang mulai mendominasi. Orang-orang sunda banyak yang lebih suka pakai gamis dengan gaya Arab daripada pakaian daerahnya. Mereka sudah banyak juga yang sibuk dengan bahasa Arabnya daripada bahasa Sunda.

"Kultur masyarakat Sunda yang berubah, banyak dipengaruhi oleh kedekatan daerahnya dengan Jakarta.." Begitu kata seorang teman yang bersuku Sunda. "Tumbuh kota-kota metropolis dengan perkembangan bangunan yang pesat, menghilangkan ciri pedesaan yang sudah melekat di masyarakat Sunda.

Ada gegar budaya - culture shock - ketika masyarakat Sunda harus mengikuti perkembangan metropolitan. Bahkan tidak ada lagi ciri-ciri kesundaan di gedung-gedung kota, seperti di Bali dan Jogja. Hilang. Sunda menjadi tidak sunda lagi.. " Keluhnya.

"Akhirnya, karena kebingungan dengan hilangnya budaya itu, warga Sunda mencari pegangan lain, dengan agama. Dan masuklah pengaruh Arab yang sangat kuat di wilayah Sunda. Bukan masalah agamanya, tetapi dengan penjajahan budayanya.." Dia merenung sambil menyeruput kopinya.

"Lihat saja di Puncak sana, banyak sekali tulisan Arab menunjukkan hilangnya identitas Sunda dalam pergaulannya. Puncak menjadi sangat Arab, dan orang Sunda tersingkir, hanya menjadi komoditas dalam kesehariannya.."

"Jadi wajar jika Jawa Barat akhirnya menjadi provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi, karena budaya timur tengah di daerah asalnya saja suka ribut sendiri diantara mereka. Dan budaya itu dibawa kesini.." Secangkir kopi lagi ditambahkan sebagai penyemangat..

"Apa yang kamu harapkan supaya Sunda bisa menjadi sunda lagi ?" Tanyaku lagi.

"Seorang pemimpin dengan jiwa kesundaannya yang sejati. Bukan yang sibuk politisasi agama untuk meraih suara. Yang sibuk menyalurkan kredit ke masjid-masjid supaya mengikat mereka. Yang sibuk mengukur mayoritas dan minoritas berdasarkan apa agama mereka. Mayoritas difasilitasi, minoritas dilindungi, itu maksudnya apa ?

Yang sibuk mengadakan shalat subuh berjamaah yang bernuansa politis, tapi lupa mempertahankan budaya. Yang sibuk membangun gedung dan taman, tapi lupa akar masyarakat Sunda.." Dia nyerocos tanpa henti mengungkapkan uneg di dadanya.

Dan dia berdiri sambil mengakhiri pidatonya.

"Sebenarnya sudah ada pemimpin urang Sunda yang melawan budaya itu terang-terangan. Dia dimusuhi oleh ormas berbaju agama sejak lama. Rekam jejaknya bisa dibaca dimana saja. Dia melakukan penentangan itu bukan karena politis atau karena kampanye, tapi karena kecintaannya pada tanahnya, pada sukunya, pada leluhurnya, pada akarnya..

Dia harapan kami, supaya kepala kami bisa tegak berdiri kembali sebagai urang Sunda di tanah Sunda. Beri dia kesempatan. Perang mengembalikan budaya Sunda ini panjang, tetapi harus dimulai. Dan itu harus dimulai.. "

Temanku dengan ikat kepala khas suku sundanya berlalu. Dia pergi membawa mimpi, yang harus dia perjuangkan sekarang ini.

Tanggal 27 Juni adalah waktu dia dan teman-temannya seideologi memperjuangkan akarnya kembali.

Selamat berjuang, saudaraku. Sunda adalah identitas kalian. Semoga engkau bisa memilih pemimpin yang kalian cita-citakan..

Salam secangkir kopi..

Denny Siregar

SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN

SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN

SEJARAH AKSARA JAWA (PART 04) - Website Kepek

Memadukan penanggalan Śaka Jawa yang mempergunakan peredaran matahari dan bulan sebagai basic perhitungan dengan penanggalan Hijriyah Islam yang mempergunakan peredaran bulan saja sebagai basic perhitungan, pada tahun 1555 Śaka Jawa, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram ke-3 yang memerintah pada 1613-1645 Masehi, mengesahkan adanya kalender baru bagi Tanah Jawa, yaitu Kalender Jawa atau Kalender Kêjawen. Perhitungan tahun tidak dimulai dari tahun 1, melainkan meneruskan perhitungan tahun Śaka Jawa yang sudah menginjak tahun 1555. Ini terjadi tepat pada tahun 1633 Masehi.

Sistem perhitungan rumit dan pelik Śaka Jawa hampir semua di adopsi namun kebanyakan sudah diubah namanya menjadi nama-nama Arab. Bahkan nama bulan pun juga mempergunakan nama-nama Arab. Paling kentara adalah penamaan nama hari yang semula mempergunakan nama Kawi diubah menjadi nama Arab.

1. Radite – Ahad (logat Jawa : Ngahad)
2. Soma – Itsnain (logat Jawa : Sênen)
3. Anggara – Tsalatsah (logat Jawa : Sêlasa)
4. Budha – Arba'ah (logat Jawa : Rêbo)
5. Rêspati – Khomsah (logat Jawa : Kêmis)
6. Sukra – Jama'ah (logat Jawa : Jumngat)
7. Tumpak – Sab'ah (logat Jawa : Sêbtu)

Nama-nama bulan pun juga diubah dari Kawi ke Arab.

1. Warana– Syura (logat Jawa : Sura)
2. Wadana– Shofar (logat Jawa : Sapar)
3. Wijangga– Rabi'ul Awwal/Maulid (logat Jawa : Mulud)
4. Wiyana– Rabi'ul Akhir/Ba'da Maulid (logat Jawa : Bakda Mulud)
5. Widada– Jumadil Awwal (logat Jawa : Jumadilawal)
6. Widarpa– Jumadil Akhir (logat Jawa : Jumadilakir)
7. Wilapa– Rojab (logat Jawa : Rêjêb)
8. Wahana– Arwah (logat Jawa : Ruwah)
9. Wanana– Ramadlan (logat Jawa : Ramêlan/Pasa)
10. Wurana– Syawal (logat Jawa : Sawal)
11. Wujana– Dzulqoidah (diganti Sêla)
12. Wujala– Dzulhijjah (diganti Bêsar)

Masih banyak nama-nama Kawi diganti menjadi nama Arab yang cenderung Islami, termasuk pembagian perhitungan waktu dalam Jawa semenjak jaman Buda yang dibagi menjadi 5 waktu dalam sehari semalam diganti menjadi :

1. Maheśwara diganti Ahmad (logat Jawa : Akmad)
2. Wiṣṇu diganti Jabarail
3. Brahmā diganti Ibrahim
4. Śrī diganti Yusuf(logat Jawa : Yusup)
5. Kāla diganti Izrail(logat Jawa : Ngijrail)

Pendek kata, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma ingin menunjukkan kepada dunia Islam, khususnya kepada Kekhalifahan Turki Utsmani yang merupakan pusat Kekhalifahan Islam pada waktu itu bahwa beliau benar-benar berkomitmen menyebarkan Islam di Tanah Jawa tidak hanya setengah-setengah. Karena upayanya tersebut, beliau mendapat gelar Sultan dari penguasa Ka'bah pada 1641 Masehi. Sebelumnya beliau hanya mempergunakan gelar Kangjêng Susuhunan Prabhu Anyakrakusuma. Kalender Jawa yang disahkan oleh beliau resmi menjadi kalender Jawa-Islam alias Kalender Kêjawen. Demikian kenyataan dan faktanya.

Pada awalnya ketika disahkan, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, dimulai pada hari Jum'at Lêgi. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Jamngiyah (Jam'iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Ajugi, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Jum'at Lêgi.

Pada 1 Sura tahun Alip 1675, dimulai pada hari Kêmis Kliwon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Kamsiyah (Khamsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Amiswon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Kêmis Kliwon.

Pada 1 Sura tahun Alip 1795, dimulai pada hari Rêbo Wage. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba'iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Aboge, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Rêbo Wage.

Pada 1 Sura tahun Alip 1915, dimulai pada hari Sêlasa Pon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Asapon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Sêlasa Pon.

Masa kita sekarang telah mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah). Ini berlaku semenjak 19 Oktober 1982 Masehi. Celakanya di pedesaan Jawa masih banyak yang tidak memahami pergantian Kurup (Huruf) ini sehingga mereka tetap mempergunakan perhitungan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba'iyyah) atau Aboge. Hasilnya, semenjak tahun 1915 Jawa atau 1982 Masehi, tanggal 1 Sura di pedesaan akan maju satu hari. Menjadi kewajiban kita sebagai pemerhati budaya untuk meluruskan hal ini agar tidak berlarut-larut sehingga menyebabkan adanya kesalahan fatal dalam perhitungan hari karena kalender Jawa menyangkut dengan pemilihan hari baik dan buruk.

Sesuai Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) atau Asapon, tahun baru Sura atau tanggal 1 Sura tahun Alip 1955 kali ini, jatuh pada hari Sêlasa Pon atau bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021. Yang masih mempergunakan Aboge tahun baru Sura mempergunakan hari Rêbo Wage tanggal 11 Agustus 2021, dan perhitungan itu salah. Pelurusan perlu digalakkan.

Sugêng warsa enggal Kêjawen

Sêlasa Pon, 1 Sura 1955 Alip, Wuku Kulawu, Windu Sangara.

Mugi tansah pinaringan têguh rahayu slamêt tan ana baya-bayane, luput ing sambekala. Tansah satuhu rahayu. Sarwa hayu!

Minggu, 01 Agustus 2021

Emil Dardak: Kasus Covid-19 di Jatim Melandai Tapi Masih Tinggi

Emil Dardak: Kasus Covid-19 di Jatim Melandai Tapi Masih Tinggi

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Rektor ITS Mochamad Ashari dan Ketua IKA ITS Wahid Wahyudi menyaksikan proses vaksinasi di Graha ITS pada Minggu (1/8/2021).

"Minimal kita sedang melihat melandainya kasus aktif meskipun grafik melandainya masih tinggi, Kita harus sangat hati-hati membuka kegiatan ekonomi jangan sampai melonjak lagi" tuturnya

Data tadi pagi yang saya dapat keterisian ICU 1.193 dari 1.479 ini ada ini 81% kemudian untuk tempat tidur isolasi 12.640 dari 17.879 jadi kurang lebih ada di 71% isolasi selanjutnya antrian IGD 380 tertinggi kota Malang 90 disusul Surabaya 76, kota Madiun 32" imbuhnya.

BOR dan IGD menunjukan tren penurunan dibeberapa daerah di Jawa Timur

"Terkait BOR untuk antrian di IGD berdasarkan data terbaru sudah turun dibawah 400an kita pernah menyentuh di 800an sekerang sudah turun, ada beberapa daerah seperti malang ini kok sudah nyalip Surabaya untuk jumlah antriannya padahal sudah ada RS Darurat yang okupansinya sudah mulai turun" tuturnya.

"Untuk ICU sendiri awal bisa menyentuh 20an untuk zona hitam hari ini ada dikisaran 15an, tolong jangan kita lupa ini bisa membaik karena kita membatasi aktivitas kita" Imbuhnya.

Mantan Bupati Trenggalek itu menjelaskan kondisi beberapa daerah

"Seperti Trenggalek yakni 19, ini  sebenarnya ngga banyak tetapi untuk ukuran Trenggalek ini sudah banyak ini  kami coba cek ke pak Bupati. Sebenarnya antrian IGD ini sudah turun dan BOR sudah turun" jelasnya

"Begitu juga dengan Malang kami tadi sudah kontak pak Walikota Malang untuk mengurai penumpukan di IGD, kita bisa identifikasi nanti apakah ini menumpuk di IGD RS tertentu sehingga tidak terdistribusi, sebenarnya bisa didistribusikan ke RS lain yang bisa merawat" tambahnya.

Prokes Covid 19 varian delta berbeda

"Prokes Covid 19 yang lalu unutk adaptasi kebiasaan baru berbeda dengan prokes untuk varian delta ini, kita ini sedang sangat hati-hati untuk menerapkan prokes yang bisa kita terapkan dimasyarakat dan tentunya pemerintah pusat akan memberikan kebijakan yang baik" ungkapnya.

"Kita layak bersyukur kasus aktif barunya di Surabaya lebih rendah dibandikan kasus sembuhnya sehingga kasus aktifnya berkurang tetapi ini baru terjadi di Surabaya dan beberapa daerah lain, kebanyakan daerah-daerah lain masih naik" tutupnya.

Confirm Running - Online Training : 1. TNA & Evaluation; 2.Managing Strategic Learning...; 3.Strategic Sourcing and Vendor Management




Value Consult Online Training

Click HERE to Unsubscribe from Our Newsletter

2 Day Online Training

Online Training : Training Needs Analysis (TNA) & Evaluation


By Zoom, Jakarta, 4-5 Aug 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. 3.000.000,-

Deskripsi

Salah satu tugas dan fungsi Human Resources Management adalah menjamin tersedianya man-power yang kompeten. Dalam konteks ini, pelatihan dan pengembangan memegang peran penting agar tenaga kerja yang tersedia selaras dengan visi, misi, nilai, dan strategi perusahaan.

Pelatihan dan pengembangan sebagai salah satu cara agar tercipta keselarasan antara kebutuhan bisnis dengan ketersediaan man-power yang kompeten. Namun seringkali perusahaan menyelenggarakan training yang tidak mendukung kebutuhan, yang tentu saja tidak memiliki efek positif untuk perusahaan atau organisasi ketika diukur.

Pelatihan Training Needs Analysis (TNA) & Evaluation ini memberikan pemahaman kepada peserta untuk bisa merancang keburuhan training perusahaan denga efektif. Disamping itu akan diberikan cara mengevaluasi/mengukur keberhasilan dari suatu program training.

Pelatihan ini cocok diikuti oleh bagian HR Department ataupun line manager ditugaskan sebagai trainer/instruktur pelatihan.  Harapannya peserta mampu melakukan evaluasi dan mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dengan tepat agar investasi perusahaan membawa dampak yang signifikan.

Manfaat pelatihan

  •     Peserta akan terampil menganalisa kebutuhan training (Training Need Analysis/TNA)
  •     Mampu membuat krikulum yang tepat
  •     Mampu menyelenggarakan training dengan efektif, serta
  •     Mampu mengevaluasi /mengukur keefektifan training yang telah diselenggarakan.


Target Peserta

Peserta dalam program Training need analysis ini adalah adalah para profesional yang bertanggung jawab dalam manajemen SDM maupun Diklat .

Outline materi

  • Sesi 1
    • Menganalisa kebutuhan training (Training Need Analysis).
    • 3 step analisa kebutuhan training, dan analisa training dari symptom.
  • Sesi 2
    • Competency Profiling.
    • Menyusun Individual Development Plan.
    • Membuat kurikulum yang tepat.
  • Sesi 3
    • Mengenal beberapa metode belajar.
    • Menyelenggarakan training dengan efektif.
    • 4 step pengukuran efektivitas training dari Kirkpatric.
  • Sesi 4
    • Mengukur ROTI (Return of Training Investment)
    • collecting data (performance indicator & hard indicators)
    • using control group
    • trend line
    • converting data to monetary value

Facilitator

ADI WIJAKSANA, Drs.Psi, CH, CHT

Lebih  20 tahun pengalaman professional, dalam mengembangkan pendekatan membangun kepabilitas diri yang digunakan untuk membantu kliennya.

Berlatar belakang pendidikan Psikologi – Universitas Indonesia, mengawali karir sebagai praktisioner selama lebih 12 tahun di bidang Human Resource. Adi mempunyai keterampilan yang baik dalam pengembangan HRD yang dimulai dengan proses identifikasi kebutuhan organisasi hingga mengevaluasi program pengembangan karyawan.  Kemudian menggeluti dunia konsultansi hingga saat ini untuk memberikan pengalamannya dalam membantu pengembangan karyawan di klien.

Sebagai Konsultan HR, banyak membantu klien dari berbagai latar belakang industri dan jasa baik perusahaan nasional maupun multinational, dengan melakukan proses perbaikan dan penguatan organisasi dan performance individu melalui kegiatan konsultansi dan program training.

Klien-Klien yang telah dibantu, antara lain : Bank Mandiri, BII-Maybank, BCA Learning Center, Yamaha Part Manufacturing Indonesia, MPM-Rent, Suzuki Finance, U-Finance, Changsin Indonesia, Harsono Strategic Consulting, Gramedia Printing, Sayap Mas Utama, Minamas, Sharprindo Dinamika Prima, MSIG, Sanofi-Aventis Indonesia, BPPT, Icon Plus, dll.

Training Fee

  • Rp. 3.000.000 ,- (Early Bird, REG before 21 Jul 2021 payment before 25 Jul 2021)
  • Rp. 3.500.000,- (Full fare)

Lebih lanjut klik di sini >>

2 Day Online Training

Online Training : Managing Strategic Learning and Development


By Zoom, Jakarta, 24-25 Aug 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. ,-

Training & Development saat ini dihadapkan pada sebuah tantangan yang lebih tinggi yaitu efektivitas dalam menghadapi perubahan yang cepat pada bisnis organisasi dan kemajuan teknologi.

Mengeluarkan uang untuk training dan pengembangan juga akan menjadi pertimbangan. Bagaimana kita bisa mengukur kualitas dari training dan pengembangan agar setara dengan biaya yang telah dikeluarkan. Lalu bagaimana kita dapat mengukur dan menghitungnya?

Issue besar sekarang ini adalah bagaimana melakukan evaluasi training dengan efektif, maka untuk itu haruslah mengarah pada bagaimana me-manage training dan kinerja karyawan agar lebih baik di area kerja dan area organisasinya.

Strategic Learning And Development (SLD) adalah program pengembangan yang didesain untuk memfasilitasi profesioanl HR, para trainer, team leader, line manager dan business facilitator dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menganalisa, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi sesi training yang dinamis dan strategis.

Sasaran Pelatihan

  1. Memahami secara keseluruhan A to Z dari Program Learning and Development.
  2. Mampu menginterpretasikan dan memberikan kompetensi yang dibutuhkan organisasi pada orang yang tepat di saat yang tepat.
  3. Mampu menampilkan pengetahuan tingkat tinggi untuk diaplikasikan dalam mendesain dan memfasilitasi kinerja Learning & development.
  4. Mampu menentukan nilai tambah pada learning & development dalam hubungannya dengan kontribusi terhadap total kompetensi organisasi.

Outline Materi

MODULE I    Strategic Partnering with Operations and Line Managers 

MODULE II   Identifying the Learning & Development Gaps & Interventions that Will Produce the Organizational Results 

MODULE III Designing the High Impact Learning and Development Events 

MODULE IV Transfer of Learning: Bridging the Knowing-Doing Gap

Target Peserta

  • HR, staff/Supervisor/Manager divisi yang bertanggung jawab pada management dan fungsi HR.
  • Executive dan manager dari unit bisnis, fungsi organisasi dan professional HR.

Facilitator

Pungki Purnadi, ST., MM., MHRM

Memiliki sertifikasi HR Management dari Filipina dan telah memiliki pengalaman sebagai profesional HR di  beberapa industri selama lebih dari 25 tahun. Selama karirnya di HR berbagai posisi pernah diembannya seperti Head of Training & Develoment, Head of Corporate Man Power Planing, Head of Corporate Career Development , Head of Corporate Organisation Development and Studies, HRD Manager, serta Senior Human Capital Manager .  Termasuk di dalamnya beberapa penugasan International dan regional.
Pengalaman yang lengkap di dunia praktek HR ini di-'genap'-kan dengan pengalamannya sebagai trainer dan HR consultant untuk berbagai industri seperti  tobaccos, power plant, telecommunication, pulp & paper dan tourism.
Pungki Purnadi juga adalah salah satu penggagas Sertifikasi Bidang SDM di universitas Atmajaya Jakarta dengan program Certified Human Resources Professional nya (CHRP).

Training Fee

  • Rp. 3.000.000 ,- (Early Bird, REG before 10 Aug 2021 payment before 14 Aug 2021)
  • Rp. 3.500.000,- (Full fare)

Lebih lanjut klik di sini >>

2 Day Online Training

Online Training : Strategic Sourcing and Vendor Management


By Zoom, Jakarta, 1-2 Sep 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. ,-

LATAR BELAKANG

Procurement/purchasing dan vendor management  sangat ditentukan oleh bagaimana proses hubungan dengan para supplier/vendor dilaksanakan. Mengapa vendor harus dimanagemeni dengan baik karena cukup besar uang perusahaan mengalir ke vendor. Karena vendor adalah kepanjangan dari bisnis kita maka produk yang dihasilkan oleh vendor idelnya harus lebih bagus dari harapan, bagaimana dampak yang terjadi dengan bisnis kita apabila terjadi ketidak sesuaian produk reject delivery delay, vendor yang kurang responsive harga yang tidak kompetitif membawa dampak besar terhadap operasi perusahaan, hingga konflik kepentingan, seringkali berawal dari kurang baiknya hubungan antara; team procurement/purchasing & team internal lainnya yang terkait dengan para supplier/vendor.

Team procurement/purchasing perlu menerapkan metode vendor management yang strategik untuk menciptakan hubungan kerja berkelanjutan dengan para supplier/vendor, dengan prinsip yang saling mendukung & menguntungkan bahkan mampu membangun semangat perubahan dengan cara memberikan support dalam melaksanakan cost reduction, sehingga pola kerja sama yang dibangun dengan vendor melalui program jangka panjang sehingga menguntungkan kedua belah pihak.

Tujuan & Manfaat Training

Setelah mengikuti training ini, para peserta akan memiliki kemampuan untuk:

  1. Mengelola & melaksanakan proses vendor management secara strategik & profesional
  2. Memahami critical point & key success factors dalam proses vendor management
  3. Mampu melakukan Audit vendor dengan baik
  4. Mengidentifikasi, menganalisa, mengantisipasi, & membuat solusi atas permasalahan yang terjadi
  5. Mengembangkan sistem vendor management yang baik, terukur, & terencana.
  6. Membuat keputusan yang efektif & efisien dalam proses vendor management
  7. Mampu memberikan bimbingan ke vendor untuk menyelamatkan pemborosan yang terjadi diproses supplier/ vendor dengan pendekatan lean 
  8. Membangun komunikasi dan semangat untuk bersama meningkatkan profit
  9. Mampu membangun  hubungan jangka panjang dengan vendoa
  10. Mampu menyusun strategy inisisiatif vendor dengan pendekatan KPI
  11. Mampu melakukan continous improvement bersama vendor

Metode Training

Class presentation, discussion, case study, & video presentation, dengan konsep:

  • 20% teori berdasarkan literatur praktisi
  • 40% analisa best practices & benchmarking antara; institusi, korporasi, & industri
  • 40% studi kasus nyata & brainstorming antara trainer dengan peserta

Target Peserta

Training ini ditujukan untuk para praktisi & profesional di bidang:

  1. Buyer, Procurement Admin, Vendor Management
  2. Supply Chain Management, Logisticians
  3. Head & Supervisor yang terkait dengan proses procurement.
  4. Siapa saja yang ingin meningkatkan kompetensi di bidang ini.

Materi Training

Day 1
09:00 - 15:00 WIB

  • Strategic Souching  
  • Vendor Selection  
  • Cost of poor Quality  
  • Strategic partnership

Day 2
09:00 - 15:00 WIB

  • Lean procurement
  • Vendor Audit   
  • Key Performance Indocator by Vendor  
  • Vendor Development Program 

Facilitator

Surachman. ST.,MT

Adalah Profesional konsultan yang telah memiliki pengalaman sebagai praktisi industri lebih dari 22 tahun. Serta lebih dari 7  tahun sebagai konsultan manajemen, yang telah membantu banyak perusahaan Nasional dan Multinasional dalam program peningkatan daya saing perusahaan. Diharapkan dengan wawasan dan pengalaman yang luas dari para instruktur akan memberikan wawasan, inspirasi dan kompetensi baru bagi para peserta training sehingga nantinya dapat diterapkan diperusahaan tempatnya bekerja.

Surachman memiliki latar belakang Sarjana Teknik Mesin, dan Magister Teknik Industri, Sebagai lulusan AOTS Association for Overseas Technical Scholarship Japan. Yokohama Kenshu center pada bidang Quality Improvement

Berpengalaman pada dunia industri manufaktur, Jabatan terakhir adalah Dept Manager Quality Management dan Management Refresentative   pada sebuah perusahaan multinasional,

Berpengalaman dalam proses pengembangan, Managerial Skill, TPM  Quality Management System ISO 9001:2000, ISO TS 16949, Environment Management System 14000:2004, Business & Organization Excellence, Performance Management (Key Performance Indicator), Supplier Development, 5S, Quality innovation, dan Total Quality Management System.

Training Fee

  • Rp. 3.000.000 ,- (Early Bird, REG before 18 Aug 2021 payment before 22 Aug 2021)
  • Rp. 3.500.000,- (Full fare)

Lebih lanjut klik di sini >>



Contact Us

Ms. Ori & Ms. Riri

Training Series

Click the list below to subscribe specific training series only, we will send as individual email :

  1. School of Training
  2. HR Management Series
  3. Managerial Skills / Soft Skills Series
  4. Production / Operation Management Series
  5. Marketing Management Series
  6. Financial Management Series
  7. Legal Series
  8. IT & Telecomunication Series
  9. All Series

 

 

More Training in 2021

©Copyright 2021 Value Consult, Training & People Development Consultant